Keberhasilan akuisisi ini juga tidak lepas dari peran Khomasiah Group. CEO Khomasiah Group, Ammar Baroum, menyatakan pihaknya berperan memfasilitasi masuknya investasi Danantara sebagai bagian dari dukungan terhadap penanaman modal asing di Arab Saudi. Kerja sama trilateral antara Danantara, Thakher Development, dan Khomasiah Group menjadi fondasi dari seluruh proses transaksi yang terbilang cepat ini.
Kawasan Thakher sendiri merupakan salah satu kawasan pengembangan modern di Makkah yang dirancang untuk memenuhi lonjakan permintaan akomodasi jemaah. Letaknya yang relatif dekat dengan Masjidil Haram menjadikannya incaran investor dari berbagai negara. Faisal Shaker berharap kehadiran Danantara di sana dapat memperluas pilihan penginapan bagi jemaah Indonesia yang selama ini sering kesulitan mendapatkan akomodasi berkualitas di lokasi strategis.
Indonesia adalah negara dengan kuota haji terbesar di dunia. Setiap tahun, ratusan ribu warga negara Indonesia berangkat ke Tanah Suci, belum termasuk jutaan yang menunaikan umrah sepanjang tahun. Meski demikian, kepemilikan aset perhotelan Indonesia di Makkah sebelumnya nyaris tidak ada. Akuisisi Danantara mengubah kondisi itu secara fundamental.
Ambisi Danantara di Arab Saudi tampaknya tidak berhenti di Makkah. Rosan Roeslani mengisyaratkan bahwa perusahaan tengah menjajaki peluang kerja sama di Madinah, kota suci kedua umat Islam, serta sektor-sektor strategis lain di luar properti. Langkah ini sejalan dengan semangat memperdalam hubungan bilateral Indonesia dan Arab Saudi yang selama ini sudah terjalin erat melalui jalur keagamaan.
Investasi Danantara di Makkah adalah cerminan dari perubahan cara Indonesia memandang posisinya di dunia. Bukan lagi sekadar negara pengirim jemaah, tetapi negara yang ikut membangun infrastruktur peradaban di kota yang paling disucikan oleh 1,8 miliar umat Islam di seluruh bumi.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.