Pandu menegaskan bahwa kombinasi aset operasional dan lahan pengembangan adalah strategi yang disengaja. Ekosistem haji dan umrah terus berkembang setiap tahun, dan Danantara ingin memastikan Indonesia hadir tidak hanya sebagai pengirim jemaah terbanyak di dunia, tetapi juga sebagai aktif dalam ekosistem layanan di tanah suci.
Tidak hanya soal bisnis perhotelan, Danantara melihat peluang yang lebih luas. Kehadiran properti Indonesia di Makkah membuka jalan untuk memperkenalkan budaya, , dan pelayanan khas Indonesia kepada jutaan jemaah dari berbagai penjuru dunia yang singgah di kawasan Thakher setiap tahunnya.
Namun Danantara tidak akan terburu-buru membangun. Pandu menegaskan bahwa pengembangan lahan akan dilakukan secara terukur. Setiap tahap pembangunan harus melewati kajian kelayakan bisnis, memenuhi ketentuan regulasi Arab Saudi, serta menerapkan prinsip tata kelola investasi yang hati-hati. Kesalahan satu langkah di kawasan sensitif seperti Makkah bisa berdampak jauh lebih besar dari sekadar kerugian finansial.
Rencana pengembangan lahan itu mencakup pembangunan hotel tambahan, fasilitas ritel, serta berbagai layanan pendukung bagi jemaah. Seluruh pembangunan akan dikerjakan secara bertahap bersama Al-Khomasiah sebagai mitra pengembang lokal yang sudah berpengalaman di kawasan tersebut. Meski begitu, konstruksi fisik belum bisa dimulai sebelum studi kelayakan rampung dan izin dari otoritas terkait di Arab Saudi dikantongi.
CEO Danantara, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa visi perusahaan bukan sekadar memiliki aset, melainkan membangun ekosistem terpadu yang meningkatkan kualitas layanan bagi jemaah Indonesia maupun dari negara lain. Pengelolaan aset akan dilakukan dengan disiplin investasi yang ketat, seiring dengan persiapan pengembangan fasilitas secara menyeluruh.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.