SHANGHAI, PUNGGAWANEWS – Hari pertama pameran internasional SIAL Shanghai 2026 langsung memberikan kabar menggembirakan bagi Indonesia. Paviliun Indonesia berhasil mencatat penandatanganan nota kesepahaman senilai 3,5 juta dolar AS โ€” sebuah sinyal kuat bahwa produk pangan Indonesia semakin diminati pasar dunia.

Kehadiran Indonesia di ajang bergengsi ini bukan sekadar seremonial. Pemerintah secara serius menjadikan SIAL Shanghai sebagai panggung strategis untuk memperluas ekspor, mempererat diplomasi ekonomi, sekaligus membuka pintu kerja sama dagang baru dengan Tiongkok dan negara-negara mitra lainnya.

Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri menegaskan bahwa industri makanan dan minuman merupakan salah satu mesin pertumbuhan ekonomi nasional yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Sektor ini bukan hanya menyumbang devisa, tetapi juga menyerap jutaan tenaga kerja dan menjadi tulang punggung ekspor nonmigas Indonesia.

“Indonesia terus mendorong penguatan industri makanan dan minuman sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Wamendag Roro, Senin, 18 Mei 2026.

Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Sepanjang 2025, total nilai ekspor makanan olahan Indonesia menembus angka 6,25 miliar dolar AS โ€” angka yang mencerminkan daya saing produk pangan Indonesia di kancah global.

Produk-produk unggulan Indonesia kini telah menjangkau berbagai pasar utama dunia. Amerika Serikat, Filipina, Malaysia, Tiongkok, hingga Thailand menjadi tujuan ekspor yang terus tumbuh dari tahun ke tahun.

Di antara semua pasar itu, Tiongkok menempati posisi yang sangat strategis. Negeri Tirai Bambu ini memiliki permintaan impor pangan yang begitu besar, menciptakan peluang emas yang sayang untuk dilewatkan oleh pelaku usaha Indonesia.

Peluang tersebut mencakup ragam produk bernilai tambah tinggi: kopi, rempah-rempah, gula aren, kakao olahan, produk turunan kelapa, hingga berbagai makanan kemasan yang semakin digemari konsumen global. Indonesia memiliki semua itu โ€” dan kini saatnya menggarap pasar Tiongkok secara lebih agresif.

Namun Wamendag Roro mengingatkan, menembus pasar global bukan perkara mudah. Kapasitas produksi yang besar saja tidak cukup. Kualitas produk dan kepatuhan terhadap standar internasional menjadi faktor penentu yang tak bisa diabaikan.

Tiongkok sendiri dikenal menerapkan sistem pengawasan impor pangan yang ketat melalui General Administration of Customs of China (GACC). Lembaga ini menjadi penjaga gerbang bagi produk-produk yang masuk ke pasar Tiongkok.

Kabar baiknya, Indonesia terus membuktikan diri mampu memenuhi standar tersebut. Hingga saat ini, sebanyak 2.840 pelaku usaha Indonesia telah resmi terdaftar di GACC โ€” sebuah pencapaian yang mencerminkan kepercayaan pasar internasional terhadap produk pangan dalam negeri.

Di SIAL Shanghai 2026, Indonesia hadir dengan tampilan yang cukup impresif. Paviliun Indonesia berlokasi di Hall E3, menampilkan produk unggulan dari 17 perusahaan nasional terpilih.

Ragam produk yang dipamerkan mencerminkan kekayaan pangan Indonesia: kopi, rempah-rempah, kacang-kacangan, confectionery, kerupuk, kakao olahan, hingga berbagai produk pangan olahan lainnya yang siap bersaing di pasar internasional.

Antusiasme pengunjung dan mitra dagang terhadap Paviliun Indonesia terbukti dari capaian hari pertama yang langsung menghasilkan MoU senilai 3,5 juta dolar AS. Dan ini baru permulaan โ€” SIAL Shanghai masih berlangsung selama tiga hari ke depan, dengan potensi nilai transaksi yang diperkirakan akan terus bertambah.

“Capaian awal ini menjadi sinyal positif terhadap tingginya minat pasar internasional terhadap produk pangan Indonesia,” kata Roro Esti dengan optimistis.

Optimisme itu beralasan. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia secara konsisten memperkuat kehadiran produk pangannya di berbagai ajang internasional. SIAL Shanghai menjadi salah satu medan pembuktian paling bergengsi โ€” dan Indonesia tampaknya siap memanfaatkan setiap peluang yang tersedia.

Keberhasilan di Shanghai bukan hanya soal angka transaksi. Ini adalah bagian dari strategi jangka panjang untuk memposisikan Indonesia sebagai pemasok pangan global yang terpercaya, berkualitas, dan kompetitif.

Dengan fondasi ekspor yang kuat, jumlah pelaku usaha yang terus bertumbuh, serta dukungan penuh dari pemerintah melalui diplomasi ekonomi aktif, Indonesia tampak semakin percaya diri melangkah di panggung pangan dunia.

FAQ

Apa itu SIAL Shanghai dan mengapa penting bagi Indonesia? SIAL Shanghai adalah salah satu pameran industri makanan dan minuman internasional terbesar di Asia. Bagi Indonesia, ajang ini menjadi platform strategis untuk mempromosikan produk pangan unggulan, memperluas jaringan dagang, dan memperkuat diplomasi ekonomi dengan Tiongkok serta negara-negara mitra lainnya.

Berapa nilai ekspor makanan olahan Indonesia dan ke mana saja tujuannya? Pada 2025, total nilai ekspor makanan olahan Indonesia mencapai 6,25 miliar dolar AS. Produk-produk tersebut telah menjangkau pasar utama seperti Amerika Serikat, Filipina, Malaysia, Tiongkok, dan Thailand.

Apa saja produk pangan Indonesia yang dipamerkan di SIAL Shanghai 2026? Indonesia menampilkan beragam produk unggulan di Paviliun Indonesia Hall E3, antara lain kopi, rempah-rempah, kacang-kacangan, confectionery, kerupuk, kakao olahan, dan berbagai produk pangan olahan lainnya yang dibawa oleh 17 perusahaan nasional.


Alternatif Judul SEO

  1. Ekspor Pangan Indonesia Makin Kuat, SIAL Shanghai 2026 Bukukan MoU 3,5 Juta Dolar
  2. 17 Perusahaan Indonesia Unjuk Gigi di SIAL Shanghai, Panen Kesepakatan Dagang
  3. Produk Pangan Indonesia Serbu Pasar Tiongkok Lewat Pameran SIAL Shanghai 2026

Tag Artikel

SIAL SHANGHAI 2026, EKSPOR PANGAN INDONESIA, MAKANAN OLAHAN, WAMENDAG, DIPLOMASI EKONOMI, PERDAGANGAN INTERNASIONAL, PAVILIUN INDONESIA