MAKASSAR, PUNGGAWANEWS – Musim hujan tak selalu datang dengan peringatan. Dalam hitungan menit, curah hujan tinggi bisa mengubah jalanan menjadi sungai, lereng bukit menjadi ancaman longsor, dan rumah menjadi tempat yang tak lagi aman. Memahami apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah hujan lebat bukan sekadar pengetahuan—ini soal keselamatan jiwa.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara rutin mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem, termasuk potensi hujan lebat yang dapat disertai angin kencang dan petir. Sayangnya, tidak sedikit warga yang masih mengabaikan informasi tersebut hingga bencana benar-benar terjadi.
Hujan lebat membawa sejumlah dampak serius yang kerap merembet ke berbagai sektor kehidupan. Banjir menjadi ancaman paling nyata, terutama di kawasan padat permukiman yang saluran drainasenya tersumbat atau tidak memadai. Genangan air merusak properti, melumpuhkan aktivitas ekonomi, dan mengisolasi warga dari akses layanan dasar.
Di daerah berbukit atau lereng curam, ancaman bergeser menjadi tanah longsor. Tanah yang jenuh air kehilangan daya ikatnya dan bisa meluncur tiba-tiba tanpa banyak tanda peringatan. Tidak sedikit korban jiwa jatuh akibat bencana ini, terutama di wilayah-wilayah yang pembangunannya tidak mempertimbangkan tata ruang berbasis risiko bencana.
Selain itu, angin kencang yang menyertai hujan lebat berpotensi menumbangkan pohon dan menimpa kendaraan maupun bangunan. Arus lalu lintas pun kerap terganggu parah—kemacetan panjang, jalur tertutup, hingga kecelakaan yang dipicu jalan licin atau rendahnya jarak pandang.
Yang kerap terlupakan adalah dampak kesehatan pascahujan lebat. Genangan air kotor menjadi media berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti penyebab demam berdarah, bakteri leptospira dari kotoran hewan yang hanyut bersama air banjir, serta kuman penyebab diare yang mengontaminasi sumber air minum.
Langkah paling efektif dalam menghadapi ancaman ini dimulai jauh sebelum hujan turun. Memantau informasi cuaca dari BMKG adalah kebiasaan sederhana namun krusial. Pembersihan selokan dan saluran air dari sampah secara rutin pun menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa ditunda-tunda, karena drainase yang tersumbat adalah salah satu penyebab utama banjir di permukiman.
Kondisi fisik rumah juga perlu dicek secara berkala: atap yang bocor, talang yang mampet, dan dinding yang retak bisa memperparah dampak saat hujan deras mengguyur. Menyiapkan tas siaga bencana yang berisi dokumen penting, obat-obatan, senter, pakaian ganti, serta persediaan air minum dan makanan tahan lama adalah investasi kecil dengan nilai yang tak ternilai ketika keadaan darurat datang mendadak.
Mengetahui jalur evakuasi dan titik kumpul di sekitar tempat tinggal juga tidak kalah pentingnya. Saat bencana terjadi, kepanikan mudah menguasai pikiran. Mereka yang sudah memiliki rencana akan jauh lebih cepat bergerak dan selamat.
Ketika hujan lebat sudah turun, ada beberapa hal yang mutlak dihindari. Jangan menyeberangi banjir, sekecil apapun terlihat—arus di bawah permukaan bisa jauh lebih deras dari perkiraan dan kedalaman air sering kali sulit diukur dengan mata telanjang. Berteduh di bawah pohon besar juga berbahaya karena risiko sambaran petir dan tumbang. Jika air mulai memasuki rumah, cabut peralatan elektronik dan matikan aliran listrik untuk mencegah korsleting yang bisa berujung kebakaran.
Prioritas utama saat bencana adalah keselamatan, bukan harta. Segera evakuasi ke tempat lebih tinggi bila situasi mengharuskan, bantu tetangga yang membutuhkan pertolongan—terutama anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas—serta ikuti arahan petugas dari BPBD maupun aparat setempat.
Setelah bencana berlalu, jangan terburu-buru kembali ke rumah sebelum dipastikan kondisinya aman. Bersihkan lumpur, rebus air sebelum dikonsumsi, dan periksa instalasi listrik sebelum menyalakan kembali peralatan elektronik. Laporkan kerusakan yang dialami ke pihak berwenang agar bisa masuk dalam pendataan bantuan.
Untuk keadaan darurat, sejumlah nomor penting bisa dihubungi: Call Center Darurat 112, layanan informasi BMKG di 117, pemadam kebakaran dan penyelamatan di 119, gangguan listrik PLN di 129, serta BPBD di daerah masing-masing.
Keselamatan bukan keberuntungan. Ia adalah hasil dari kesiapan.
FAQ
Apa yang harus segera dilakukan saat air banjir mulai masuk ke dalam rumah? Segera matikan aliran listrik di rumah, cabut peralatan elektronik, pindahkan dokumen penting dan barang berharga ke tempat lebih tinggi, lalu bersiap untuk evakuasi jika ketinggian air terus naik. Hubungi Call Center Darurat 112 bila membutuhkan pertolongan.
Mengapa kita tidak boleh menyeberangi banjir meskipun terlihat dangkal? Arus di bawah permukaan banjir bisa jauh lebih kuat dari yang terlihat, dan ketinggian air kerap tidak merata. Banyak korban jiwa akibat banjir justru terjadi karena nekat menyeberangi genangan yang tampak tidak berbahaya.
Apa saja isi tas siaga bencana yang ideal? Tas siaga bencana sebaiknya berisi air minum dan makanan tahan lama, obat-obatan dan perlengkapan P3K, senter beserta baterai cadangan, pakaian ganti dan jas hujan, dokumen penting seperti KTP dan KK, serta uang tunai secukupnya untuk kebutuhan darurat.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.