Summarize the post with AI
PUNGGAWANEWS, MAKASSAR – Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menegaskan bahwa politik dalam pandangannya bukanlah arena pertarungan semata, melainkan medan kerja nyata untuk masyarakat. Pernyataan ini disampaikan dalam forum pertemuan gubernur se-Indonesia yang membahas potensi investasi dan pembangunan daerah.
Takdir Politik: Kerja Nyata, Bukan Kampanye
Dengan gaya khas yang lugas dan humoris, Andi Sudirman mengungkapkan bahwa perjalanan politiknya bukanlah hasil dari strategi kampanye konvensional.
“Sebenarnya kalau ada orang bicara tentang pertarungan politik, bagaimana orang bertarung di politik hingga menjadi gubernur, kalau saya mungkin ini takdir politik. Semakin panjang jenggot saya, semakin banyak yang memilih saya—76 persen,” ujarnya dengan santai, menuai gelak tawa peserta.
Namun di balik humor tersebut, Andi Sudirman menegaskan prinsip kepemimpinannya yang sesungguhnya: “Politik dalam pengertian saya adalah bagaimana bekerja. Pekerjaan itulah yang bercerita.”
Ia menjelaskan bahwa kampanye terbaik adalah pembangunan yang dapat dilihat dan dirasakan langsung oleh rakyat. “Ketika saya kampanye kemarin, dalam jarak 10 kilometer saja, masyarakat sudah melihat langsung pembangunan yang kami lakukan bersama seluruh OPD. Itulah yang sebenarnya diharapkan masyarakat, bukan janji-janji,” tegasnya.
Efisiensi Anggaran: Mengumpulkan Rp3,7 Triliun dari Pengelolaan Internal
Salah satu pencapaian yang menonjol dari pemerintahan Andi Sudirman adalah keberhasilannya mengumpulkan dana Rp3,7 triliun dari efisiensi pengelolaan anggaran daerah selama tiga tahun pertama masa jabatannya.
“Banyak yang bertanya, dari mana Sulawesi Selatan mendapatkan Rp3,7 triliun? Ini hasil dari memanajemen ulang semua anggaran yang selama ini dipakai tapi tidak efektif,” jelasnya.
Strategi yang diterapkan adalah dengan mengonsolidasikan 54 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan memfilter kebutuhan masyarakat berdasarkan prioritas. Dari 54 OPD tersebut, hanya 7 OPD yang difokuskan untuk menangani kebutuhan mendesak seperti pembangunan jalan, irigasi, pertanian, pendidikan, dan kesehatan.
“Kalau 54 OPD semuanya mau bangun jalan, tidak mungkin efisien. Makanya banyak OPD saya suruh standby dan membantu OPD yang efektif. Dari lima prioritas inilah—PU, irigasi, pertanian, pendidikan, kesehatan—yang kami kembangkan menjadi top 10 dan kami anggarkan secara terfokus,” paparnya.
Sistem Multi-Years: Tender Sekali untuk Tiga Tahun
Inovasi lain yang diterapkan Andi Sudirman adalah sistem anggaran multi-years (multitahun) untuk proyek infrastruktur jalan. Menurutnya, sistem konvensional yang menganggarkan ruas jalan yang sama setiap tahun sangat tidak efisien.
“Dari pengalaman saya, setiap tahun ruas jalan yang sama dianggarkan dengan panjang berbeda-beda. Ternyata, efisiensi terhadap proses lelang dan dokumentasi itu menghabiskan 30 persen anggaran. Waktu habis sekitar 40 persen, waktu kerja hanya 60 persen—kejar-kejaran terus,” ungkapnya.
Solusinya adalah melakukan tender satu kali untuk pekerjaan tiga tahun (2025-2027) dengan nilai kontrak besar. “Dari Rp3,7 triliun, Rp2,5 triliun kami alokasikan untuk jalan. Kami gambar semua jalan kewenangan provinsi, pilih yang LHR (Lalu Lintas Harian Rata-rata) tertinggi, paling banyak dilalui, dan paling rusak. Dari 2.000 km, kami seleksi 500 km yang paling layak dapat,” jelasnya.
Tender Besar dengan Kewajiban Konten Lokal
Untuk meningkatkan kualitas pekerjaan sekaligus memberdayakan kontraktor lokal, Andi Sudirman merancang sistem lelang dengan paket besar—Rp500 miliar per paket—dengan syarat ketat.
“Saya syaratkan hanya kontraktor yang pernah menangani proyek Rp400-500 miliar yang boleh ikut lelang. Tapi wajib menggandeng kontraktor lokal dengan porsi 40-50 persen sebagai local content, sehingga mereka belajar dan upgrade kemampuannya. Hasilnya, spek tetap bagus, dan kontraktor lokal ikut berkembang,” paparnya.
Fokus pada Pertanian: 70 Persen Penduduk adalah Petani
Andi Sudirman menekankan bahwa strategi pembangunan Sulawesi Selatan harus menyasar mayoritas penduduk, yakni petani yang mencapai 70 persen dari total populasi.
“Kalau mau sukses di Sulawesi Selatan, APBD harus menyasar kelompok petani dan nelayan. Kalau kami berhasil di sini, 70 persen rakyat akan terangkat. Sektor industri akan jalan sendiri, tapi kita harus beri akses kepada yang mayoritas,” katanya.
Pada tahun pertama kepemimpinannya, Pemprov Sulsel memberikan 5.000 ton benih padi gratis berkualitas unggul yang ditangkar dan disertifikasi sendiri oleh daerah, dibagikan kepada 200.000 kepala keluarga petani.
“Survei BPS menunjukkan ada peningkatan produktivitas ketika benih ditangkar di wilayah sendiri. Benih harus ‘berbahasa Bugis-Makassar’ dulu agar bisa adaptif dengan tanah, hama, dan iklim lokal,” ujarnya dengan gaya khas yang mengundang tawa.
Potensi Nikel dan Proyek Strategis Lainnya
Sulawesi Selatan adalah satu-satunya provinsi di Indonesia yang memiliki tiga konsesi nikel milik pemerintah daerah, hasil lelang yang diperjuangkan sejak 2012.
“Nikel adalah potensi besar kalau dikelola dengan tepat. Tapi kalau salah kelola, bisa jadi pisau bunuh diri,” ingatnya.
Selain itu, Andi Sudirman membuka peluang investasi di berbagai sektor:
- Kereta api: Sudah mendapat lampu hijau dari Kementerian Perhubungan untuk investasi jalur kereta hingga Makassar dan Palu.
- Transportasi bus: Sistem BRT dengan lima ruas piloting sudah siap ditawarkan kepada investor swasta.
- Reklamasi pantai: Untuk mendukung program subsidi pemerintah pusat dan pembangunan kawasan smart city.
- Jalan tol lingkar Maminasata: Menghubungkan empat kabupaten terpadat, sudah ada anggaran pembebasan lahan.
Sulawesi Selatan sebagai Hub Indonesia Timur
Andi Sudirman juga menyoroti peran strategis Sulawesi Selatan sebagai hub pasokan pangan untuk Indonesia Timur, terutama telur yang 70 persen suplainya berasal dari wilayah ini, khususnya Kabupaten Sidrap.
“Jadi tidak salah kalau Menteri Pertanian kita berasal dari Sulawesi Selatan. Di sinilah pusat kontrol sistem pertanian untuk Indonesia Timur,” pungkasnya.
Dengan pendekatan kerja nyata, efisiensi anggaran, dan pemberdayaan ekonomi rakyat, Andi Sudirman membuktikan bahwa politik yang sejati adalah pelayanan—bukan sekadar retorika dan pertarungan kekuasaan.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.