Kedua, konsep relevansi dinilai dangkal. Dunia kerja terus berubah, sementara pendidikan tinggi harus menyiapkan lulusan dengan daya tahan jangka panjang, bukan sekadar kesiapan instan.

Ketiga, terdapat risiko bias evaluasi. Tanpa indikator yang komprehensif, kebijakan ini berpotensi menutup prodi yang sebenarnya memiliki nilai strategis di masa depan.

Keempat, penutupan prodi dapat melemahkan ekonomi berbasis pengetahuan. Bidang ilmu dasar dan humaniora justru menjadi fondasi penting bagi inovasi teknologi dan etika.

Kelima, kebijakan ini dinilai reaktif atau pro-siklikal. Siklus pendidikan tinggi yang memakan waktu 4–5 tahun tidak selalu sejalan dengan dinamika pasar tenaga kerja yang cepat berubah.



Follow Widget