Analogi itu bukan sekadar puitis. Dedi menjadikannya sebagai pesan tegas: selama PAN setia pada janjinya kepada rakyat dan konsisten pada sumpahnya, Indonesia masih berada di jalur menuju kejayaan.
Bicara soal kepemimpinan, Dedi mengutip ungkapan Sunda yang menurutnya menjadi kompas hidupnya: kaluhur sirungan, kahandap akaran — ke atas berdaun, ke bawah berakar. Seorang pemimpin harus mampu berbicara dengan para akademisi dan elit, tetapi sekaligus memiliki akar kerakyatan yang kokoh dan tidak mudah goyah oleh hembusan angin kepentingan.
“Dekat dengan elit untuk kepentingan rakyat. Itu prinsipnya,” tegasnya singkat.
Dalam forum itu pula, Dedi menegaskan posisinya sebagai gubernur yang tidak mewakili satu partai. Ia justru memilih untuk menempatkan dirinya sebagai pemimpin yang bisa hidup berdampingan dengan siapa pun, selama memiliki tekad yang sama: mewujudkan Jawa Barat yang gemah ripah repeh rapi — sejahtera, aman, dan harmonis.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.