Summarize the post with AI
PUNGGAWANEWS, BANDUNG — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tampil sebagai pembicara tamu dalam kuliah umum yang digelar di Graha Widya Adibrata, Sekolah Staf dan Komando TNI (Sesko TNI), Kota Bandung, Senin (6/4/2026). Di hadapan para Perwira Siswa Pendidikan Reguler (Pasis Dikreg) LXVII Tahun Ajaran 2026, ia membawakan materi bertema kepemimpinan dan komunikasi publik yang sarat dengan refleksi mendalam tentang hakikat memimpin di era modern.
Kepada para perwira yang kelak akan menduduki posisi strategis di lingkungan militer, Dedi menekankan bahwa kepemimpinan yang sejati tidak bisa direkayasa atau dibungkus rapi dalam bingkai pencitraan. Menurutnya, Indonesia hari ini tengah merindukan sosok pemimpin yang hadir dengan keaslian sikap dan ketulusan niat, bukan mereka yang tampil berkilau di permukaan namun hampa di dalamnya.
Pria yang akrab disapa KDM itu menegaskan bahwa kepemimpinan yang dibutuhkan bangsa adalah yang tumbuh dari kecintaan tulus terhadap rakyat dan negeri, bukan yang lahir dari kalkulasi politik atau rekayasa narasi semata. Ia menilai, pemimpin yang terlalu mengandalkan strategi framing justru akan kehilangan kepercayaan publik dalam jangka panjang.
Dalam uraiannya, Dedi juga mengajak para perwira untuk memahami TNI bukan sekadar sebagai institusi bersenjata yang bersifat struktural dan hierarkis. Lebih dari itu, ia memandang TNI sebagai entitas yang memiliki akar filosofis, ideologis, dan historis yang sangat kuat, yang tumbuh dari rahim perjuangan rakyat Indonesia yang mendambakan kemerdekaan, keadilan, dan perdamaian.
Ia memperkenalkan cara pandang yang ia sebut sebagai “milieu kultural”, yakni sebuah perspektif yang menempatkan TNI sebagai bagian tak terpisahkan dari ekosistem alam dan budaya bangsa. Tanah, air, udara, dan matahari, dalam pandangan KDM, bukan sekadar unsur alam biasa melainkan fondasi spiritual dan fisik dari kekuatan pertahanan nasional. Prajurit yang benar-benar tangguh, katanya, adalah mereka yang tetap setia dan tidak mengkhianati alam tempat mereka berpijak.
Dedi kemudian bergerak ke perdebatan yang kerap mengemuka di dunia militer modern, yakni soal peran teknologi dalam pertahanan. Ia tidak menampik bahwa teknologi adalah hal yang penting, namun dengan tegas menyatakan bahwa ideologi dan kesadaran kolektif jauh lebih menentukan dalam memenangkan sebuah konflik. Teknologi tanpa landasan ideologi yang kokoh, menurutnya, hanyalah instrumen kosong yang tidak memiliki jiwa.
Tak hanya berbicara soal kekuatan militer, KDM turut menyinggung isu lingkungan hidup sebagai komponen strategis dalam sistem pertahanan negara. Eksploitasi alam yang tidak terkendali, tegasnya, secara perlahan justru meruntuhkan benteng pertahanan alami yang selama ini menjadi salah satu keunggulan geografis Indonesia.
Ia juga melontarkan kritik terhadap kecenderungan pragmatisme yang masih mengakar di kalangan elite, baik di ranah politik maupun birokrasi. Orientasi jangka pendek yang mengedepankan kepentingan sesaat dinilai berbahaya karena dapat menggerus semangat nasionalisme dan pada akhirnya memperlemah ketahanan bangsa secara keseluruhan.
Mengakhiri sesinya, Dedi merumuskan empat pilar yang menurutnya harus menjadi penyangga utama kepemimpinan masa depan, yaitu dimensi ideologis, historis, filosofis, dan teknokratis. Keempatnya, kata dia, harus berjalan beriringan dan saling menopang agar kepemimpinan yang dihasilkan benar-benar mampu menghadapi kompleksitas tantangan zaman yang terus berubah.
Bangsa yang hanya kuat di luar namun rapuh di dalam, demikian ia menutup kuliahnya, adalah bangsa yang belum selesai membangun dirinya sendiri.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.