JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Dua ratus ton jagung pipil kering berpindah tangan di Desa Tuwiri Wetan, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Jawa Timur — bukan sekadar transaksi biasa, melainkan sinyal bahwa negara mulai serius membenahi ekosistem pangan dari hulu ke hilir.
Perum Bulog menjadi ujung tombak penyerapan dalam kegiatan Panen Raya Jagung Kuartal II yang diinisiasi Kepolisian Negara Republik Indonesia. Ini bukan acara seremonial semata. Di hari yang sama, Polri juga meresmikan groundbreaking 10 Gudang Ketahanan Pangan dan meluncurkan operasional 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG Polri secara serentak di seluruh Indonesia.
Petani di Tuban menjadi salah satu yang langsung merasakan dampaknya. Bulog hadir sebagai offtaker strategis, membeli jagung langsung dari hasil panen dengan harga Rp6.400 per kilogram di gudang Bulog. Harga itu dirancang memberi kepastian pasar bagi petani, bukan sekadar mengikuti fluktuasi harga yang kerap merugikan di musim panen raya.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan apresiasinya terhadap keterlibatan Polri dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Dalam keterangan resmi yang disampaikan Minggu, 17 Mei, Prabowo mengenang pengalaman hidupnya bersama masyarakat desa yang kerap menyambutnya dengan hasil bumi seperti singkong dan jagung.
“Hal tersebut semakin menegaskan pentingnya petani sebagai pilar utama dalam membangun kedaulatan pangan nasional,” kata Prabowo.
Pernyataan itu bukan sekadar nostalgia. Di baliknya tersimpan pesan politik yang jelas: pemerintahan Prabowo menempatkan petani sebagai subjek, bukan objek kebijakan.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa penyerapan di Tuban bukan kejadian tunggal. Ini bagian dari program berskala nasional yang sudah berlangsung masif. Total serapan jagung Bulog di seluruh Indonesia kini telah mendekati angka 200.000 ton — sebuah pencapaian yang menunjukkan betapa seriusnya Bulog memainkan peran barunya sebagai penjaga keseimbangan pasar komoditas jagung.
Untuk menampung volume serapan sebesar itu, Bulog telah menyiapkan gudang khusus penyimpanan jagung dengan kapasitas total hampir 350.000 ton. Selain itu, gudang ketahanan pangan yang sedang dibangun Polri akan disinergikan untuk menambah daya tampung, sehingga rantai pasok tidak putus di tengah jalan.
Yang menarik, Bulog tidak hanya bergerak di sisi hulu — menyerap dari petani — tetapi juga aktif di sisi hilir. Jagung yang diserap itu akan disalurkan kembali melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan atau SPHP Jagung. Program ini menyasar 5.541 peternak dengan populasi unggas sekitar 53 juta ekor, dengan total kuota penyaluran mencapai 242.000 ton hingga 31 Desember 2026.
Sasaran utamanya adalah peternak ayam ras petelur skala kecil dan menengah, kelompok yang paling rentan ketika harga jagung pakan melonjak di pasaran. Selama ini, mereka kerap terhimpit di antara dua tekanan: harga pakan yang naik dan harga telur yang tidak bisa dinaikkan sembarangan karena tekanan daya beli konsumen.
Rizal menyebut program SPHP Jagung sebagai instrumen penting untuk menjaga keterjangkauan harga jagung pakan. Bulog, katanya, tidak hanya hadir untuk petani, tetapi juga untuk keberlanjutan usaha peternakan sebagai bagian tak terpisahkan dari rantai pangan nasional.
“Bulog selalu menjaga stabilisasi harga dari dua sisi, yaitu sisi produsen di tingkat petani jagung dan sisi konsumen di tingkat peternak. Dengan penyerapan dan penyaluran yang terukur, stabilitas pasokan dan harga jagung dapat terus terjaga,” ujar Rizal.
Sinergi antara Bulog dan Polri dalam skema ini memang tergolong tidak biasa. Polri, yang selama ini identik dengan fungsi keamanan dan penegakan hukum, kini masuk ke ranah ketahanan pangan dengan membangun gudang dan menginisiasi panen raya. Langkah ini mencerminkan pendekatan lintas sektor yang menjadi ciri khas kebijakan di era Prabowo: semua lembaga negara dikerahkan untuk satu tujuan bersama.
Di lapangan, skema ini menciptakan rantai yang lebih terhubung. Di hulu, petani tidak lagi was-was soal ke mana hasil panen akan dijual dan berapa harganya. Di hilir, peternak mendapat jaminan akses pasokan jagung dengan harga yang lebih stabil dan terjangkau.
Tuban hari itu menjadi cermin kecil dari ambisi besar: ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, tetapi soal sistem — siapa menyerap, siapa menyimpan, siapa menyalurkan, dan siapa yang terlindungi di ujung rantai.
FAQ
Berapa harga jagung yang diserap Bulog dari petani dalam program ini? Bulog menyerap jagung pipil kering dari petani dengan harga Rp6.400 per kilogram di gudang Bulog, sebagai bagian dari skema offtaker strategis untuk menjaga kepastian pasar bagi petani.
Apa itu program SPHP Jagung dan siapa sasarannya? SPHP Jagung adalah program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan yang dijalankan Bulog untuk menyalurkan jagung kepada peternak, khususnya peternak ayam ras petelur. Program ini menargetkan 5.541 peternak dengan total penyaluran 242.000 ton hingga akhir 2026.
Apa peran Polri dalam program ketahanan pangan jagung ini? Polri menginisiasi kegiatan Panen Raya Jagung Kuartal II, membangun 10 Gudang Ketahanan Pangan, dan meluncurkan 166 SPPG secara serentak di seluruh Indonesia. Gudang yang dibangun Polri juga akan disinergikan dengan Bulog untuk menambah kapasitas penyimpanan jagung nasional.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.