Monsun Australia diprakirakan mengalami penguatan dalam waktu dekat, sebelum kemudian melemah kembali. Pola ini membawa massa udara kering dari selatan, namun seiring pelemahannya, peluang meningkatnya uap air di wilayah selatan Indonesia pun terbuka kembali.
Fenomena MJO atau Madden-Julian Oscillation fase 3 masih aktif di sebagian besar wilayah Indonesia. Pengecualian hanya terjadi di Kalimantan Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Utara. MJO fase ini dikenal sebagai salah satu pendorong utama peningkatan curah hujan dalam skala regional.
Gelombang Kelvin turut diprediksi aktif di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Laut Jawa, Sulawesi Selatan, dan Laut Banda. Sementara itu, gelombang Rossby Ekuatorial tercatat aktif di Kalimantan Utara, Selat Makassar, Sulawesi Selatan, NTT, dan Laut Flores. Dua fenomena atmosfer ini bekerja layaknya bahan bakar yang memperkuat pertumbuhan awan hujan di wilayah-wilayah tersebut.
Mengacu pada analisis BMKG, periode 15 hingga 18 Mei 2026 menjadi jendela waktu yang patut diwaspadai. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang diprakirakan terjadi secara luas, namun sejumlah wilayah sudah masuk dalam status Siaga—tingkatan yang menandakan potensi dampak signifikan bagi masyarakat.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.