Summarize the post with AI
JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Perusahaan analitik maritim Kpler menyimpulkan bahwa operasi blokade yang dijalankan Angkatan Laut Amerika Serikat di sekitar perairan Selat Hormuz belum mampu memberikan pukulan berarti terhadap arus ekspor minyak Iran. Temuan itu disampaikan Kpler setelah memantau pergerakan kapal-kapal tanker yang keluar-masuk pelabuhan Iran dalam beberapa pekan terakhir.
CNN melaporkan pada Kamis, 23 April, bahwa fasilitas pemuatan di dermaga-dermaga Iran tetap beroperasi normal meski tekanan militer AS terus menguat di sekitar kawasan tersebut. Data yang dikumpulkan Kpler memperlihatkan lalu lintas kapal tanker di zona pemuatan Iran berlangsung tanpa hambatan signifikan sejak blokade mulai diberlakukan.
Yang lebih mengejutkan, aliran minyak mentah Iran menuju China justru mencatat angka yang cukup tinggi, yakni sekitar 985.000 barel per hari pada separuh pertama April. Angka itu menunjukkan bahwa pembeli utama minyak Iran di Asia tidak mengendurkan permintaannya meski situasi geopolitik memanas.
Kpler juga mencatat perkembangan mencolok di Terminal Jask, fasilitas ekspor minyak Iran yang secara strategis dibangun untuk menghindari ketergantungan pada Selat Hormuz. Terminal itu membukukan rekor cadangan tertinggi sepanjang sejarahnya dengan 5,8 juta barel minyak tersimpan. Posisi geografis Jask memungkinkan kapal tanker bermuatan minyak langsung berlayar menuju Teluk Oman tanpa harus melintas di bawah bayang-bayang blokade AS di Selat Hormuz.
“Blokade itu telah mengganggu mesin minyak, tetapi belum menghancurkannya,” demikian penilaian Kpler terhadap efektivitas operasi militer AS tersebut.
Di sisi lain, Komando Pusat AS sehari sebelumnya mengumumkan bahwa armada lautnya telah berhasil mengalihkan 31 kapal agar kembali ke pelabuhan asal atau berbalik arah, sebagai bagian dari rangkaian operasi blokade yang masih berjalan. Sebagian besar kapal yang dipaksa berbalik itu adalah kapal tanker pengangkut minyak.
Sebelum pengumuman tersebut, Washington juga telah mengambil langkah lebih keras dengan menyita sebuah kapal berbendera Iran di Teluk Oman, serta menaiki paksa sebuah kapal lain yang masuk dalam daftar sanksi AS di Samudra Hindia. Rangkaian tindakan itu menegaskan intensi AS untuk memperketat cengkeramannya atas jalur pelayaran minyak Iran, meski data lapangan sejauh ini menunjukkan hasil yang belum sesuai harapan Washington.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.