Bupati Ratnawati juga menitipkan harapan besar kepada festival ini. Ia ingin agar gelaran dua hari ini menjadi titik tolak kebangkitan seni dan budaya di Kabupaten Sinjai — sebuah titik nol baru dari mana semangat berkesenian kembali dan meluas ke seluruh penjuru daerah.

“Festival ini saya harapkan menjadi titik tolak kebangkitan seni dan budaya Sinjai. Terus lahirkan karya baru,” pesannya, penuh harap.

Pesan itu tampaknya jatuh di telinga yang tepat. Para seniman dan pelaku budaya yang hadir terlihat antusias, seolah mendapat suntikan energi baru untuk terus berkarya. Bagi mereka, panggung seperti ini bukan hanya soal tampil — ini soal eksistensi dan pengakuan bahwa karya mereka punya tempat di jantung pembangunan daerah.

Festival ini dijadwalkan berlangsung selama dua hari, dari 1 hingga 2 Agustus 2026. Turut hadir dalam pembukaan ini sejumlah unsur pimpinan daerah dari forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopimda), beberapa kepala organisasi perangkat daerah (OPD), serta Sekretaris Dewan Kesenian Sulawesi Selatan, Djamal A. Kalan. Kehadiran tokoh dari tingkat provinsi ini memberi sinyal bahwa gaung Festival Seni dan Budaya Sinjai telah melampaui batas kabupaten.

Kekayaan budaya, dalam pandangan Bupati Ratnawati, bukan sekadar warisan statis yang harus disimpan dalam lemari kaca. Ia adalah aset hidup yang harus terus dikembangkan, diperkenalkan kepada masyarakat luas, dan dijadikan fondasi pembangunan karakter serta identitas daerah yang kuat di tengah arus globalisasi yang terus mengalir deras.



Follow Widget