Dalam sambutannya, Bupati Ratnawati Arif menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar agenda seremonial yang datang dan pergi. Festival ini, menurutnya, adalah momentum nyata untuk memperkuat identitas budaya daerah sekaligus mendorong kreativitas masyarakat, terutama generasi muda yang kerap lebih akrab dengan budaya luar.

Ia secara khusus menyebut sejumlah kekayaan budaya Sinjai yang harus terus dijaga dan diwariskan. Tari Pasere, dengan gerakannya yang anggun dan penuh filosofi, disebut sebagai salah satu mahkota kesenian Sinjai. Tradisi Ma’rimpa Salo — ritual memanen ikan di sungai yang telah berlangsung turun-temurun — juga diangkat sebagai bukti betapa kayanya warisan leluhur yang dimiliki daerah ini.

“Sinjai memiliki warisan budaya yang luar biasa. Mari kita rawat dan wariskan kepada generasi penerus,” kata Ratnawati di hadapan para seniman, budayawan, dan tamu undangan yang memadati kawasan Benteng Balangnipa.

Pemilihan Benteng Balangnipa sebagai lokasi festival bukan keputusan sembarangan. Situs bersejarah ini adalah salah satu ikon Kabupaten Sinjai yang menyimpan jejak sejarah panjang — mulai dari era kerajaan hingga masa kolonial. Menggelar festival kebudayaan di tempat ini memberikan dimensi simbolis yang kuat: masa lalu dan masa kini berjabat tangan untuk menyongsong masa depan.

Suasana di sekitar benteng pun berubah menjadi lautan ekspresi budaya. Para pengunjung dapat menyaksikan langsung bagaimana kesenian tradisional berdampingan dengan karya-karya kontemporer, menciptakan dialog antargenerasi yang organik dan hidup.



Follow Widget