Inflasi per Maret 2026 berada di angka 3,48 persen, relatif terkendali, tetapi dibayangi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berpotensi mendorong kenaikan harga barang. Suku bunga acuan Bank Indonesia bertahan di level 4,75 persen selama tujuh bulan terakhir, mencerminkan sikap waspada otoritas moneter.
Tekanan lebih terasa pada nilai tukar. Rupiah melemah sekitar 4,16 persen sepanjang awal 2026, berada di kisaran Rp17.380 per dolar AS. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi hingga 20 persen, menandakan sentimen pasar yang belum stabil. Cadangan devisa pun turun menjadi US$148,2 miliar, terendah dalam dua tahun terakhir.
Kondisi ini menggambarkan satu hal: Indonesia tidak berada dalam kondisi “gelap total”, tetapi juga belum bisa disebut “terang”. Situasi yang lebih tepat adalah “remang-remang”—fase di mana peluang dan risiko berjalan beriringan.
Masalah yang lebih kompleks justru muncul di tingkat mikro dan sosial. Biaya kesehatan yang tinggi, akses keadilan yang mahal, serta tantangan dalam dunia usaha—terutama terkait keterlambatan pembayaran proyek pemerintah—menjadi keluhan yang nyata di lapangan. Di sisi lain, perlindungan sosial dan keamanan publik di beberapa daerah masih dinilai belum optimal.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.