SINJAI, PUNGGAWANEWS – Pemerintah Kabupaten Sinjai memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) seiring prediksi musim kemarau 2026 yang berlangsung lebih kering dari kondisi normal.
Langkah tersebut ditandai dengan Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan Karhutla yang dipimpin Bupati Sinjai, Dra. Hj. Ratnawati Arif, di Halaman Eks Kantor Bupati Sinjai, Selasa (11/8/2026).
Apel tersebut melibatkan unsur lintas sektor sebagai bagian dari upaya memperkuat koordinasi, pencegahan, hingga respons cepat apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sinjai.
Dalam amanatnya, Ratnawati meminta seluruh unsur terkait tidak menunggu terjadinya kebakaran untuk bertindak. Kesiapsiagaan, menurutnya, harus diperkuat sejak potensi ancaman mulai terdeteksi.
Ia menyebut data BMKG pada April 2026 menunjukkan musim kemarau di sebagian besar wilayah Sulawesi Selatan diprediksi memiliki sifat di bawah normal. Kondisi tersebut berarti curah hujan selama musim kemarau diperkirakan lebih rendah dari rata-rata sehingga meningkatkan risiko kekeringan dan Karhutla.
“Berdasarkan data BMKG pada April 2026 menyatakan bahwa sifat musim kemarau di wilayah Sulawesi Selatan di tahun 2026 sebagian besar di bawah normal. Artinya curah hujan saat musim kemarau diperkirakan lebih sedikit dari rata-rata normal, sehingga kondisi cenderung lebih kering dan potensi kekeringan atau karhutla bisa meningkat,” ujar Ratnawati saat membacakan amanat Kapolda Sulsel.
Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, pemerintah daerah meminta peningkatan patroli dan pemantauan wilayah rawan, termasuk titik panas atau hotspot. Sistem peringatan dini juga diminta diperkuat agar potensi kebakaran dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.
Selain pengawasan, kesiapan sarana dan prasarana pemadaman menjadi perhatian. Ratnawati meminta seluruh unsur di lapangan memastikan peralatan dalam kondisi siap digunakan serta mempercepat respons ketika menerima laporan mengenai titik api.
Upaya pencegahan juga diarahkan kepada masyarakat, terutama terkait praktik pembukaan dan pengolahan lahan. Sosialisasi dan penyuluhan mengenai pengelolaan lahan tanpa membakar diminta terus dilakukan untuk menekan potensi kebakaran yang dipicu aktivitas manusia.
“Selain itu, pencegahan melalui sosialisasi dan penyuluhan pembukaan serta pengolahan lahan tanpa membakar harus terus dilakukan. Penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran lahan juga harus menjadi perhatian,” tegasnya.
Ratnawati turut mendorong pemanfaatan teknologi dalam memperkuat pengawasan wilayah rawan Karhutla. Penggunaan drone dan CCTV dinilai dapat membantu memantau kondisi wilayah secara lebih cepat dan mendukung proses deteksi dini.
Menurutnya, penanganan Karhutla membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, pihak swasta, hingga masyarakat harus memiliki peran dalam mencegah dan menangani kebakaran.
“Penanganan Karhutla tidak bisa jalan sendiri. Pemerintah, TNI, Polri, BPBD, pihak swasta, dan masyarakat harus berkolaborasi dalam setiap tahapan penanggulangan Karhutla,” katanya.
Bupati juga mengingatkan petugas agar mengutamakan keselamatan selama menjalankan tugas di lapangan. Respons cepat harus tetap diimbangi dengan penerapan prosedur keselamatan dan kondisi fisik yang prima.
“Kepada seluruh petugas di lapangan, senantiasa utamakan keselamatan kerja, jaga kesehatan, dan bertindak cepat begitu laporan titik api ditemukan agar api tidak meluas. Mari kita jaga alam dan lingkungan kita bersama demi keselamatan masyarakat luas,” pesannya.
Apel gelar pasukan tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda, Sekretaris Daerah, sejumlah kepala organisasi perangkat daerah, serta instansi terkait yang memiliki tugas dan fungsi dalam penanggulangan bencana dan perlindungan lingkungan.
Pemkab Sinjai berharap penguatan koordinasi lintas sektor tersebut mampu menekan risiko Karhutla selama musim kemarau sekaligus meminimalkan dampaknya terhadap masyarakat, lingkungan, dan aktivitas perekonomian daerah.
FadelM (Biro Sinjai)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.