Pemerintah memperkirakan total kerugian konsumen akibat praktik beras oplosan ini menembus angka Rp99,35 triliun per tahun. Sebuah angka yang sulit dibayangkan, namun nyata adanya.
Kisah serupa terjadi pada minyak goreng. Produk MinyaKita — yang digadang-gadang pemerintah sebagai solusi minyak goreng terjangkau dengan HET Rp15.700 per liter — ditemukan dipasarkan hingga Rp18.000 per liter dengan takaran yang tidak sesuai ketentuan. Kartel beroperasi dengan rapi, memeras konsumen dari selisih harga yang tampak kecil namun berlipat ganda dalam skala masif.
“Kita penjarakan pihak yang bikin susah negara. Dari pengungkapan jaringan kartel minyak goreng secara keseluruhan, 20 tersangka telah ditetapkan,” tegas Amran.
Di sektor pupuk, kerusakannya justru lebih dalam karena menyentuh langsung nasib petani kecil. Kementan menemukan lima jenis pupuk palsu yang beredar di pasaran tanpa kandungan unsur hara sama sekali. Nitrogen, kalium, dan fosfat — tiga komponen vital bagi kesuburan tanah — tercatat nol dalam hasil uji laboratorium.
Petani yang membeli pupuk palsu ini tidak hanya kehilangan uang. Mereka juga menanggung gagal panen. Yang lebih memprihatinkan, banyak korban adalah petani penerima Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang kini terjebak dalam lingkaran utang akibat hasil panen yang hancur bukan karena cuaca, melainkan karena dibohongi.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.