MAKASSAR, PUNGGAWANEWS – Ribuan anggota pramuka Sulawesi Selatan berdiri tegak di Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar, Jumat, 7 Agustus 2026, dengan ransel di punggung dan semangat yang menyala. Mereka akan segera berlayar menuju Jakarta, membawa nama besar Sulawesi Selatan ke panggung Jambore Nasional XII di Cibubur.

Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Sulawesi Selatan, Adnan Purichta Ichsan, hadir langsung untuk melepas keberangkatan kontingen daerah Sulsel. Dalam sambutannya yang penuh semangat, ia tak sekadar mengucapkan selamat jalan — ia menanamkan nilai, membangun keyakinan, dan menitipkan kehormatan sebuah provinsi ke pundak para generasi muda.

Kontingen Kwarda Sulsel dijadwalkan berangkat pada Sabtu, 8 Agustus 2026 pukul 08.00 pagi ini menggunakan KM Ngapulu. Perjalanan laut menuju Jakarta memang membutuhkan waktu, namun Adnan menegaskan bahwa perjalanan itu sendiri sudah merupakan bagian dari petualangan yang tak ternilai.

“Gunakan perjalanan itu untuk saling mengenal, saling membantu, saling menjaga antara satu dengan yang lainnya,” pesan Adnan kepada seluruh peserta yang hadir dalam upacara pelepasan tersebut.

Satu hal yang ia tekankan berulang kali adalah soal kekompakan. Adnan meminta agar tidak ada lagi sekat antara peserta yang berasal dari satu kabupaten dengan kabupaten lainnya. Dalam kontingen ini, tidak ada lagi identitas Bone, Gowa, Sinjai, atau Luwu — yang ada hanya satu identitas: Kontingen Daerah Sulawesi Selatan.

“Jangan ada lagi sekat antara kontingen dari satu kabupaten dengan kabupaten lainnya. Kita semua adalah satu. Kita adalah kontingen daerah Sulawesi Selatan,” tegasnya dengan lantang.

Pesan itu terasa bukan sekadar retorika. Adnan mengingatkan bahwa di Cibubur nanti, para peserta akan berhadapan dengan ribuan pramuka dari seluruh penjuru Indonesia — dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Papua, dan daerah-daerah lain yang masing-masing hadir dengan kebanggaan daerahnya.

Di tengah kerumunan ribuan pramuka nasional itu, Adnan berpesan agar anak-anak Sulsel tampil dengan kepala tegak dan dada lapang. Bukan dengan kesombongan, melainkan dengan karakter yang selama ini menjadi ciri khas pramuka Sulawesi Selatan.

“Berdirilah dengan penuh percaya diri dan katakan: kami dari Provinsi Sulawesi Selatan,” ujarnya. “Kebanggaan itu bukan berarti merasa lebih hebat dari daerah lain, tetapi menunjukkan bahwa pramuka Sulsel mampu menjadi pramuka yang disiplin, ramah, santun, mandiri, kompak, kreatif, dan penuh tanggung jawab.”

Adnan juga mengingatkan makna sejati sebuah jambore. Baginya, jambore bukan kompetisi untuk menentukan siapa yang paling unggul. Jambore adalah ruang untuk — menambah pengalaman, membangun persaudaraan, dan memperluas wawasan kebangsaan.

“Jambore bukan hanya tentang siapa yang unggul. Jambore adalah tentang siapa yang pulang membawa lebih banyak pengalaman, persaudaraan, pengetahuan, dan kenangan,” katanya penuh makna.

Kepada para pembina pendamping dan pimpinan kontingen, Adnan menitipkan tanggung jawab yang tidak ringan. Ia meminta mereka bukan sekadar hadir sebagai pengawas kegiatan, tetapi benar-benar menjadi orang tua, sahabat, sekaligus teladan bagi para peserta selama berada di Cibubur.

“Keberhasilan kontingen daerah Sulawesi Selatan bukan hanya dilihat dari apa yang diperoleh di arena Jambore, tetapi juga dari bagaimana kita menjaga seluruh kontingen pulang dalam keadaan sehat, selamat, dan bahagia,” pesannya kepada para pembina.

Momen pelepasan itu terasa semakin istimewa ketika Adnan berbagi cerita pribadi yang mengharukan. Tiga puluh tahun lalu, tepatnya pada 1996, ia pun berdiri di posisi yang sama seperti para peserta hari ini — seorang pramuka muda yang dilepas untuk mengikuti jambore nasional.

“30 tahun yang lalu, saya juga berdiri seperti adik-adik yang ada di tempat ini. 30 tahun yang lalu, saya juga dilepas seperti adik-adik yang ada di sini,” kenangnya. Ia kemudian berharap, tiga puluh tahun ke depan, para peserta hari inilah yang akan berdiri di atas mimbar yang sama untuk melepas generasi pramuka berikutnya.

Sambutan Adnan ditutup dengan empat bait pantun yang mengalun riang namun sarat makna. Pantun-pantun itu menggambarkan keindahan tanah Sulawesi Selatan — dari Selayar hingga Toraja, dari Parepare hingga Kepulauan Selayar, dari Pangkep hingga tanah Toraja — semuanya bersatu dalam satu semangat kontingen daerah.

Dari Selayar berlayar ke Makassar
Singgah sebentar membeli pelu basah
Dari Toraja sampai Luwu Timur bersatu besar
Semangat Kondasulsel pantang menyerah

Sorak sorai peserta meledak setiap pantun selesai dilantunkan. Semangat itu seolah menjadi bahan bakar tambahan bagi ratusan pramuka muda yang sebentar lagi akan menyeberangi lautan demi membawa nama Sulawesi Selatan ke tingkat nasional.

Upacara pelepasan diakhiri dengan doa bersama dan penyerahan simbolis kontingen kepada Asisten I Gubernur Sulawesi Selatan yang hadir mewakili Gubernur untuk memberikan sambutan resmi sekaligus melepas keberangkatan kontingen secara resmi.

Bagi para peserta, perjalanan ini bukan sekadar pergi ke Jakarta. Ini adalah pelayaran menuju ingatan yang akan bertahan seumur hidup — sebuah babak dalam perjalanan panjang menjadi manusia yang lebih matang, lebih berani, dan lebih mencintai persaudaraan.

Seperti pesan terakhir yang bergema di Pelabuhan Soekarno Hatta sore itu: di mana pun bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Di mana pramuka berada, di situ persaudaraan dibangun.

FAQ

Kapan dan dari mana Kontingen Pramuka Sulsel berangkat menuju Jambore Nasional XII?
Kontingen Kwarda Sulsel berangkat dari Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar pada Sabtu, 8 Agustus 2026 pukul 08.00 pagi menggunakan KM Ngapulu menuju Jakarta untuk mengikuti Jambore Nasional XII di Cibubur.

Apa pesan utama Ketua Kwarda Sulsel Adnan Purichta Ichsan kepada kontingen?
Adnan menekankan tiga hal utama: menjaga kekompakan sebagai satu kontingen daerah tanpa sekat antarkabupaten, tampil percaya diri mewakili Sulawesi Selatan, serta menjaga kesehatan dan nama baik Gerakan Pramuka Sulsel selama berada di Cibubur.

Apa makna personal yang dibagikan Adnan Purichta dalam pelepasan kontingen ini?
Adnan mengungkapkan bahwa 30 tahun lalu, pada 1996, ia pun pernah dilepas sebagai peserta jambore seperti para anggota kontingen hari ini. Pengalaman pribadi itu ia bagikan sebagai motivasi agar para peserta memaksimalkan kesempatan emas yang sama.



Follow Widget