Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, memaparkan langsung hasil riset tersebut dalam sebuah pemaparan yang disiarkan melalui kanal YouTube Voxpol Center. Ia menegaskan bahwa angka 63,1 persen bukan sekadar bilangan statistik biasa.

Bagi Pangi, angka tersebut mencerminkan kondisi kepercayaan publik yang masih solid. Ia menyebut tingkat keyakinan yang mencapai lebih dari enam puluh persen itu sebagai modal sosial yang penting bagi pemerintahan Prabowo-Gibran untuk melanjutkan agenda-agendanya ke depan.

Dari total responden yang menyatakan tidak percaya, angkanya mencapai 35,7 persen jika dijumlahkan antara yang kurang percaya dan sangat tidak percaya. Pangi menyebut angka ini perlu menjadi perhatian, meski secara keseluruhan posisi kepercayaan publik masih berada di atas rata-rata.

Survei semacam ini menjadi salah satu barometer yang kerap digunakan untuk membaca suhu dukungan masyarakat terhadap pemerintah. Dalam konteks Indonesia, kepercayaan publik terhadap seorang presiden kerap dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kinerja ekonomi, kebijakan sosial, hingga cara komunikasi pemerintah kepada warganya.

Prabowo Subianto resmi menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia sejak Oktober 2024, berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka sebagai wakil presiden. Pemerintahan keduanya mewarisi sejumlah tantangan struktural, termasuk pemulihan pascapandemi, tekanan fiskal, serta ekspektasi publik yang tinggi terhadap janji-janji kampanye yang pernah disuarakan.



Follow Widget