Presiden juga mengungkap fakta historis yang memperkuat arti penting stasiun ini. Stasiun Semarang Tawang, kata Prabowo, pernah menjadi titik keberangkatan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, pada masa-masa awal kemerdekaan. Fakta itu menjadikan stasiun ini bukan sekadar tempat transit penumpang, melainkan saksi bisu perjalanan bangsa.
Dengan usia 112 tahun, Stasiun Semarang Tawang masuk dalam kategori bangunan cagar budaya yang dilindungi. Tantangan terbesarnya bukan membangun dari nol, melainkan merestorasi tanpa merusak. Setiap detail ornamen, lengkungan atap, hingga pilaster batu bata merah dijaga agar tetap otentik sesuai bentuk aslinya ketika stasiun ini pertama kali dibangun di era kolonial Belanda.
Di balik pelestarian sejarah, revitalisasi ini juga punya dimensi fungsional yang tak kalah penting. Hall utama yang kini lebih luas dan tertata memberikan kenyamanan lebih bagi penumpang. Stasiun yang selama ini melayani ribuan penumpang setiap harinya kini hadir dengan wajah yang lebih representatif sebagai pintu gerbang kota Semarang.
Semarang sendiri dikenal sebagai kota dengan kekayaan arsitektur bersejarah yang luar biasa. Kawasan Kota Lama yang berada tak jauh dari stasiun sudah lebih dulu dikenal dunia. Kini, dengan revitalisasi Stasiun Tawang, ekosistem heritage di kota ini semakin lengkap dan potensial menarik lebih banyak wisatawan.
Prabowo menegaskan bahwa sektor perkeretaapian akan menjadi salah satu tulang punggung transportasi dan pariwisata nasional ke depan. Pernyataan ini bukan sekadar retorika — pemerintah tengah menggenjot pembangunan jaringan Trans Sumatra Railway dan Trans Kalimantan sebagai bagian dari peta besar konektivitas antarpulau.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.