Summarize the post with AI
JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membawa kabar optimistis usai bertemu lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s (S&P) di Washington DC. Dalam pertemuan tersebut, S&P memastikan peringkat kredit Indonesia tetap berada pada level BBB dengan prospek stabil.
Keputusan ini dinilai sebagai penegasan atas ketahanan ekonomi nasional di tengah tekanan global yang masih dibayangi perlambatan pertumbuhan, tingginya suku bunga internasional, serta ketidakpastian geopolitik. Status BBB sendiri masuk kategori investment grade, yang menandakan risiko gagal bayar relatif rendah dan menjaga daya tarik Indonesia di mata investor global.
Purbaya mengungkapkan, S&P memberi perhatian khusus pada konsistensi pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal. Salah satu indikator utama yang disorot adalah defisit anggaran yang tetap dikendalikan di bawah ambang batas 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Ia menyebut, lembaga pemeringkat tersebut menggali secara rinci kondisi fiskal Indonesia, termasuk realisasi defisit tahun berjalan dan tahun sebelumnya.
Komitmen menjaga kehati-hatian fiskal sejalan dengan arahan Presiden Prabowo yang menekankan pentingnya pengelolaan APBN secara prudent. Kebijakan ini dinilai menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang, ujar Purbaya, Jumat, 17 April 2026.
Selain itu, kinerja penerimaan negara juga menjadi faktor penopang. Pemerintah mencatat pertumbuhan penerimaan pajak mencapai sekitar 30 persen pada dua bulan pertama tahun ini, dan sekitar 20 persen sepanjang Januari hingga Maret dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Capaian ini mencerminkan pemulihan aktivitas ekonomi domestik sekaligus penguatan basis penerimaan negara.
Upaya reformasi kelembagaan turut dilakukan melalui penataan di Direktorat Jenderal Pajak dan Bea Cukai guna meningkatkan efektivitas pengumpulan penerimaan. Purbaya menilai, capaian tersebut mendapat respons positif dari S&P.
Di sisi lain, lembaga pemeringkat juga mencermati perbaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan akhir tahun lalu, serta tren positif sejumlah indikator ekonomi di awal pemerintahan Presiden Prabowo. Kombinasi konsumsi domestik yang kuat, reformasi fiskal berkelanjutan, dan prospek investasi yang terjaga disebut menjadi penopang utama daya tahan ekonomi nasional.
Meski begitu, pemerintah tetap memberi perhatian pada rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara. Purbaya menegaskan bahwa indikator tersebut akan terus dipantau untuk memastikan tidak membebani ruang fiskal di masa mendatang.
Dengan tetap bertahannya peringkat BBB dan outlook stabil, Indonesia dinilai mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, disiplin fiskal, dan stabilitas keuangan negara. Sinyal ini sekaligus memperkuat kepercayaan pasar global terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah dinamika eksternal yang belum sepenuhnya mereda.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.