Gus Ipul: Jutaan Anak Indonesia Invisible People, Sekolah Rakyat Jadi Solusi
MAKASSAR, PUNGGAWANEWS – Lebih dari empat juta anak usia 7 hingga 18 tahun di Indonesia tidak mengenyam pendidikan sebagaimana mestinya. Mereka putus sekolah, tidak pernah bersekolah, atau berada di ambang putus sekolahโtersembunyi dari radar kebijakan dan luput dari perhatian sistem. Di sinilah negara mencoba hadir melalui sebuah program yang tidak sekadar menyentuh anak, tetapi juga keluarganya.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, menegaskan bahwa Sekolah Rakyat bukan program pendidikan biasa. Program ini dirancang sebagai instrumen pengentasan kemiskinan yang bekerja dari lapisan paling bawah, menyasar kelompok paling rentan yang selama ini tidak terjangkau oleh layanan publik manapun.
“Sekolah Rakyat ini adalah bagian dari strategi besar pengentasan kemiskinan. Kita tidak hanya mengintervensi anaknya, tapi juga keluarganya,” kata Gus Ipul dalam keterangannya, Minggu, 3 April 2026.
Angka dari Badan Pusat Statistik memperkuat urgensi program ini. Data BPS menunjukkan kecenderungan putus sekolah yang justru meningkat seiring jenjang pendidikan yang lebih tinggiโsebuah ironi di tengah berbagai program beasiswa dan bantuan pendidikan yang telah berjalan bertahun-tahun.
Gus Ipul menyebut anak-anak yang tidak terjangkau sistem ini sebagai “invisible people.” Mereka mungkin ada di lingkungan sekitar, namun tidak terdeteksi oleh program pemerintah mana pun. Kondisi ini yang mendorong pemerintah mengambil pendekatan berbasis keluarga, bukan sekadar berbasis individu.
Logikanya sederhana namun kuat: kemiskinan bersifat antargenerasi. Ketika seorang anak lahir dalam keluarga miskin, peluangnya untuk tetap miskin jauh lebih besar dibanding anak dari keluarga sejahtera. Sekolah Rakyat dirancang untuk memutus lingkaran itu. Ketika anak lulus, harapannya, seluruh keluarga ikut naik kelas.
“Kalau kita bicara standar pendidikan yang baik, tentu tinggi. Tapi bagaimana semua bisa naik ke sana? Jawabannya gotong royong. Sekolah Rakyat ini menjadi instrumen untuk mengangkat dari bawah,” tegas Gus Ipul.
Tantangan tidak berhenti pada akses semata. Era digital membawa dimensi baru yang kompleks. Generasi muda Indonesia tumbuh sebagai digital native, akrab dengan layar dan teknologi. Namun di sisi lain, ketimpangan akses perangkat dan koneksi internet masih menganga lebar, terutama di daerah terpencil dan kantong-kantong kemiskinan perkotaan.
Gus Ipul mengakui keterbatasan anggaran pemerintah tidak memungkinkan negara bekerja sendiri. Partisipasi publik, kemitraan dengan dunia usaha, dan keterlibatan komunitas menjadi tidak sekadar pelengkap, melainkan keharusan. Ruang partisipasi itu, tegasnya, harus dibuka selebar mungkin agar kebijakan tidak berhenti di tingkat pusat.
Senada dengan itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menekankan bahwa keberhasilan belajar sangat ditentukan oleh lingkungan. Bukan hanya ruang kelas yang bersih, tetapi juga ekosistem sosial yang mendukung tumbuhnya semangat belajar.
Mu’ti menyebut birokrasi harus mampu “feeling the gap”โmengisi celah yang belum terjangkau dengan mengerahkan kekuatan masyarakat. Baginya, gotong royong bukan sekadar semboyan, melainkan DNA bangsa yang harus dioperasionalkan dalam kebijakan nyata.
“Tantangannya adalah bagaimana menggerakkan dan menyatukan kekuatan itu,” kata Mu’ti.
Sekolah Rakyat kini berdiri di persimpangan antara ambisi besar dan realitas yang pelik. Di satu sisi, jutaan anak menunggu untuk dijangkau. Di sisi lain, pemerintah membutuhkan lebih dari sekadar regulasiโia membutuhkan gerakan sosial yang melibatkan semua pihak. Program ini baru bermakna jika semangat gotong royong benar-benar hidup, bukan hanya tertulis dalam dokumen kebijakan.
FAQ
Apa itu Sekolah Rakyat dan siapa sasarannya? Sekolah Rakyat adalah program pemerintah yang dirancang untuk menjangkau anak-anak usia 7โ18 tahun yang putus sekolah, tidak bersekolah, atau berisiko putus sekolah, terutama dari keluarga miskin yang selama ini tidak terjangkau layanan pendidikan.
Mengapa pendekatan berbasis keluarga dipilih dalam program ini? Kemiskinan bersifat antargenerasi, sehingga intervensi yang hanya menyasar anak dinilai tidak cukup. Dengan melibatkan keluarga, program ini bertujuan memutus rantai kemiskinan secara menyeluruh agar seluruh anggota keluarga turut merasakan manfaatnya.
Bagaimana peran masyarakat dalam mendukung Sekolah Rakyat? Pemerintah menegaskan bahwa keterbatasan anggaran membuat gotong royong menjadi keharusan. Partisipasi publik, komunitas, dan dunia usaha diperlukan agar program ini benar-benar berjalan hingga ke akar rumput.
3 Alternatif Judul SEO
- Sekolah Rakyat Sasar 4 Juta Anak Putus Sekolah, Gus Ipul: Keluarga Ikut Naik Kelas
- Gotong Royong Jadi Kunci, Sekolah Rakyat Targetkan Putus Rantai Kemiskinan
- Gus Ipul: Jutaan Anak Indonesia Invisible People, Sekolah Rakyat Jadi Solusi
Tag Relevan
SEKOLAH RAKYAT, KEMISKINAN, PENDIDIKAN INDONESIA, GUS IPUL, SAIFULLAH YUSUF, ABDUL MUTI, KEMENTERIAN SOSIAL, PUTUS SEKOLAH, GOTONG ROYONG, BPS, PROGRAM PEMERINTAH, PENDIDIKAN DASAR, ANAK RENTAN, KEBIJAKAN SOSIAL, PENGENTASAN KEMISKINAN



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.