Summarize the post with AI

PUNGGAWANEWS, SAMOSIR — Suasana penuh kekhidmatan menyelimuti Toguan Salaon Tongatonga, Kecamatan Ronggur Nihuta, Kabupaten Samosir, Sabtu (11/4). Di tengah hamparan alam Danau Toba yang memesona, ribuan warga menyaksikan langsung salah satu warisan leluhur Batak yang paling agung: Mangalahat Horbo. Ritual persembahan kerbau pilihan itu menjadi mahkota dari perhelatan tahunan Mangase Taon yang diselenggarakan oleh Bius Salaon, sebuah perayaan syukur yang telah mengakar kuat dalam sendi kehidupan masyarakat Batak sejak berabad-abad silam.

Mangalahat Horbo bukan sekadar tontonan. Ia adalah ungkapan jiwa kolektif masyarakat yang hadir dalam wujud prosesi adat penuh lambang dan makna. Seekor kerbau pilihan ditambatkan di tengah lapangan pada sebatang kayu yang telah dihias dengan penuh perhatian, menjadi simbol kesyukuran sekaligus doa akan keberkahan yang dinanti. Prosesi berlangsung dalam urutan yang terstruktur dan sarat filosofi, dimulai dari mangakarihiri, panakkok pargocci, manogu lahatan, hingga puncaknya mamona ulaon yang dipimpin langsung oleh Bius Salaon selaku tuan rumah.

Salah satu momen yang paling menyita perhatian adalah ketika rombongan pakkarihiri mengiringi kerbau menuju tambatan. Dalam kepercayaan adat, prosesi ini wajib diakhiri dengan langkah kaki kanan, sebuah isyarat leluhur yang dipercaya sebagai pertanda keberhasilan dan pembawa keselamatan bagi seluruh negeri. Tak ada yang dianggap remeh dalam setiap tahapan ritualnya, karena setiap gerakan menyimpan doa yang dipanjatkan secara kolektif oleh seluruh komunitas.

Kemeriahan semakin membuncah ketika iringan gondang mengalun memenuhi udara dan penari tortor bergerak anggun dengan balutan ulos tali-tali. Perpaduan musik dan tari itu bukan sekadar hiburan, melainkan bahasa spiritual yang menjembatani manusia dengan leluhur dan Sang Pencipta, memperlihatkan betapa kaya dan lestarinya peradaban Batak yang dijaga hingga hari ini.

Wakil Bupati Samosir, Ariston Tua Sidauruk, yang hadir dalam perhelatan itu menyampaikan kekagumannya atas kekompakan masyarakat dalam merawat tradisi. Ia memandang Mangase Taon bukan sebatas seremonial adat biasa, melainkan panggung nyata bagi persatuan warga di tengah segala perbedaan. Menurutnya, kebersamaan yang terjalin dalam momen seperti inilah yang akan menjadi pondasi kokoh bagi kemajuan Samosir ke depan.

Ia juga menegaskan bahwa nilai-nilai adat dan spiritual yang hidup di tengah masyarakat Samosir merupakan aset berharga dalam mempromosikan daerah, khususnya di kawasan Danau Toba yang kini terus berkembang sebagai destinasi wisata unggulan nasional.

Senada dengan itu, Asisten II Hotraja Sitanggang mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama para Raja Bius di Kecamatan Ronggur Nihuta, untuk senantiasa menjaga dan mengamalkan nilai Dalihan Natolu sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat. Pemerintah Kabupaten Samosir pun menegaskan komitmennya untuk menggandeng para tokoh adat sebagai mitra strategis dalam pembangunan, termasuk dalam penyelesaian berbagai persoalan sosial melalui pendekatan kearifan lokal yang selaras dengan semangat restorative justice yang telah dicanangkan di daerah tersebut.

Ketua Lembaga Adat dan Budaya (LAB), Pantas M. Sinaga, menyambut hangat kehadiran pemerintah daerah dalam perhelatan tersebut dan berharap komitmen bersama dalam pelestarian budaya Batak terus diperkuat dari waktu ke waktu. Sebagai bentuk penghormatan tertinggi, Raja Bius Salaon bersama LAB menganugerahkan ulos kepada Wakil Bupati Samosir melalui prosesi mangulosi yang sakral dan penuh makna.

Dari kalangan masyarakat, rasa bangga tak kalah menggelora. Esman Simbolon, salah satu anggota Bius Salaon, mengungkapkan bahwa dukungan pemerintah telah membuka mata banyak pihak akan pentingnya mencintai dan memahami tradisi sendiri. Baginya, Mangase Taon adalah ruang belajar sekaligus ruang pulang bagi setiap warga untuk kembali menyentuh akar identitasnya.

Perhelatan Mangase Taon di Samosir tahun ini pun menorehkan makna yang jauh melampaui sebuah pesta adat. Ia menjelma menjadi ruang edukasi hidup bagi generasi muda agar tidak kehilangan jejak leluhur di tengah arus modernisasi yang kian deras, sekaligus menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah bangsa bermula dari kebanggaan atas jati dirinya sendiri.



Follow Widget