Summarize the post with AI
PUNGGAWANEWS, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia akan tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri “bebas aktif” dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks, yang oleh sejumlah pengamat disebut sebagai era hot peace hingga second cold war.
Dalam sebuah diskusi, Presiden Prabowo menjelaskan bahwa arah kebijakan luar negeri Indonesia sejatinya telah tertanam kuat dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945. Prinsip tersebut menegaskan komitmen Indonesia untuk berperan aktif dalam menjaga perdamaian dunia, sekaligus melindungi kepentingan nasional di tengah persaingan global.
Menurutnya, posisi Indonesia sangat unik dalam percaturan dunia. Selain sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, Indonesia juga memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah serta letak geografis strategis sebagai negara kepulauan yang sejak dahulu menjadi jalur perdagangan internasional.
“Sejak ratusan tahun lalu, kawasan ini sudah terbuka dan menjadi pusat interaksi global. Itu sebabnya Indonesia selalu menjadi perhatian kekuatan besar dunia,” ujar Prabowo.
Geopolitik Bergeser ke Geoekonomi
Presiden menilai bahwa saat ini terjadi pergeseran penting dari geopolitik ke geoekonomi. Hubungan antarnegara tidak lagi semata soal kekuatan militer, tetapi juga terkait perdagangan, investasi, dan pengaruh ekonomi.
Ia mencontohkan pentingnya diplomasi ekonomi melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional, termasuk dengan Uni Eropa dan Kanada. Upaya tersebut dinilai krusial untuk membuka akses pasar bagi produk Indonesia seperti tekstil dan alas kaki, sekaligus menjaga stabilitas lapangan kerja di dalam negeri.
“Kalau hubungan tidak baik, tekanan bisa datang dari berbagai arah. Karena itu kita harus memperkuat posisi tawar dengan memperkuat ekonomi nasional,” tegasnya.
Tegaskan Sikap Non-Blok
Dalam menghadapi rivalitas global, termasuk antara Amerika Serikat dan Tiongkok, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tidak akan berpihak pada blok manapun. Ia memastikan Indonesia akan menjaga hubungan baik dengan semua negara.
“Kita tidak mau terlibat konflik atau harus memilih salah satu. Kita ingin hubungan yang setara dan saling menghormati dengan semua pihak,” ujarnya.
Pendekatan ini dinilai sebagai kelanjutan dari prinsip non-blok yang telah diwariskan para pendiri bangsa dan terbukti relevan hingga saat ini.
Peran Indonesia sebagai Penyeimbang
Lebih lanjut, Prabowo melihat peluang bagi Indonesia untuk berperan sebagai jembatan atau penengah dalam konflik internasional, khususnya di kawasan Timur Tengah. Dengan hubungan baik yang terjalin dengan berbagai pihak, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk mendorong dialog dan perdamaian.
Ia mencontohkan bahwa hingga saat ini, jalur pelayaran Indonesia di kawasan konflik seperti Yaman masih relatif aman, salah satunya karena Indonesia menjaga hubungan baik dengan berbagai kelompok yang terlibat.
“Kita hormati semua pihak dan tidak terseret dalam konflik. Dengan begitu, kita bisa tetap diterima dan mungkin berperan sebagai penengah,” jelasnya.
Fokus pada Kepentingan Nasional
Presiden menegaskan bahwa seluruh kebijakan luar negeri Indonesia pada akhirnya harus bermuara pada kepentingan nasional, termasuk menjaga stabilitas ekonomi, membuka peluang kerja, serta memperkuat kemandirian bangsa.
Dalam konteks global yang terus berubah, ia optimistis bahwa prinsip “bebas aktif” tetap menjadi fondasi yang relevan bagi Indonesia untuk menghadapi tantangan zaman.
“Yang penting kita kuat secara ekonomi, mandiri, dan tidak mudah ditekan. Itu kunci agar Indonesia tetap dihormati di dunia internasional,” pungkasnya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.