NGANJUK, PUNGGAWANEWS – Presiden Prabowo Subianto berdiri di hadapan kamar sederhana milik Marsinah di Desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur. Ia melihat langsung sisa-sisa kehidupan seorang buruh perempuan yang tewas dibunuh karena berani bersuara. Wajahnya tampak prihatin. Lalu ia berbicara — dan kata-katanya tajam. Sabtu pagi, 16 Mei 2026
Prabowo menegaskan bahwa tragedi yang menimpa Marsinah seharusnya tidak pernah terjadi. Bukan karena alasan politis semata, melainkan karena Indonesia didirikan di atas fondasi yang justru menolak segala bentuk penindasan terhadap rakyat kecil.
“Peristiwa Marsinah yang dibunuh secara keji karena memperjuangkan kaum buruh, sesungguhnya sama sekali tidak perlu terjadi, karena negara kita didirikan dengan falsafah dasar Pancasila,” kata Presiden dalam sambutannya pada peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk.
Peresmian museum ini bukan sekadar seremonial. Ini adalah pengakuan negara atas perjuangan seorang buruh biasa yang namanya kini terukir dalam sejarah perlawanan terhadap ketidakadilan.
Marsinah adalah aktivis buruh yang dibunuh secara misterius pada 1993 setelah memimpin aksi mogok di pabrik PT Catur Putra Surya, Sidoarjo. Kasusnya tak pernah tuntas. Pelakunya tak pernah benar-benar diadili. Namun namanya justru hidup — menjadi simbol perlawanan buruh yang tak padam.
Kini, tiga dekade lebih setelah kematiannya, seorang presiden berdiri di depan kamarnya dan menyebut kasusnya sebagai cermin dari pengkhianatan terhadap nilai-nilai dasar republik.
Prabowo mengingatkan bahwa para pendiri bangsa telah meletakkan pondasi negara yang merangkul keberagaman — suku, agama, bahasa, dan ras — dalam satu kesatuan. Bukan untuk kepentingan segelintir orang, melainkan untuk seluruh rakyat tanpa terkecuali.
Ia merujuk pada sila kelima Pancasila soal keadilan sosial, dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa perekonomian Indonesia dibangun di atas asas kekeluargaan. Yang kuat membantu yang lemah. Bukan sebaliknya.
“Buruh adalah anak-anak bangsa. Petani adalah anak bangsa. Nelayan anak bangsa. Semuanya. Para pemimpin, para politisi, para birokrat hanya petugas — hanya penerima mandat, hanya mereka yang diberi kepercayaan untuk memimpin,” ucap Prabowo tegas.
Kalimat itu bukan retorika kosong. Setidaknya begitu pesan yang ingin disampaikan Presiden kepada para pelaku usaha, pejabat, dan pengambil kebijakan yang hadir maupun yang mendengar dari jauh.
Saat melihat kondisi kamar Marsinah yang sengaja dipertahankan seperti aslinya, Prabowo mengaku tersentuh sekaligus marah. Ia menyebut ada pemimpin pengusaha yang menyimpan niat jahat demi keuntungan pribadi — dan itu, katanya, sama sekali tidak sejalan dengan dasar berdirinya Republik Indonesia.
“Saya lihat perjuangan beliau dan saya prihatin dengan peristiwanya. Bahwa ada seorang pimpinan pengusaha yang punya pemikiran-pemikiran jahat demi keuntungan yang besar. Ini tidak sesuai dengan dasar berdirinya Republik kita,” ungkapnya.
Dari peresmian museum ini, Presiden kemudian menyampaikan gagasan yang lebih luas: konsep “Indonesia Incorporated.” Dalam kerangka ini, seluruh rakyat Indonesia dipandang sebagai pemegang saham atas kekayaan bangsa — dan negara berkewajiban memastikan kekayaan itu dinikmati secara merata dan berkeadilan.
Prabowo secara khusus menyoroti bahaya ketika pemimpin dan pejabat justru berkolusi untuk merampas hak-hak rakyat. Ia menyebutnya sebagai pengkhianatan ganda — mengkhianati rakyat sekaligus mengkhianati cita-cita para pendiri bangsa.
“Bukan pemimpin, bukan pejabat, bukan mereka yang dipilih malah berkolusi untuk menghilangkan hak rakyat atas kekayaan seluruh Indonesia. Ini perjuangan kita bersama,” tandasnya.
Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah yang diresmikan hari itu diharapkan menjadi ruang edukasi bagi generasi muda tentang sejarah perjuangan buruh di Indonesia. Tempat ini bukan sekadar memorial, melainkan pengingat hidup bahwa perjuangan menegakkan keadilan bagi kaum pekerja masih panjang dan belum selesai.
Di penghujung sambutannya, Prabowo menutup dengan nada mengajak — bukan sekadar memerintah. Ia menyebut Marsinah bukan hanya sebagai korban, melainkan sebagai lambang dari perjuangan kolektif bangsa yang harus diteruskan bersama-sama.
“Kita terbuka. Ayo, sama-sama. Ini perjuangan kita bersama dan ini lambangnya adalah Ibu Marsinah,” katanya.
Nama Marsinah, yang pernah ingin dibungkam, kini justru diucapkan lantang oleh seorang presiden. Sejarah, pada akhirnya, tidak selalu berpihak pada mereka yang berkuasa — melainkan pada mereka yang berani.
FAQ
Siapa Marsinah dan mengapa kasusnya begitu penting dalam sejarah buruh Indonesia?
Marsinah adalah aktivis buruh asal Sidoarjo yang dibunuh pada 1993 setelah memimpin aksi mogok di pabrik tempatnya bekerja. Kasusnya menjadi simbol perjuangan kaum buruh dan ketidakadilan yang belum tuntas hingga hari ini.
Apa tujuan peresmian Museum Ibu Marsinah di Nganjuk oleh Presiden Prabowo?
Museum ini diresmikan sebagai bentuk pengakuan negara atas perjuangan Marsinah, sekaligus ruang edukasi bagi generasi muda tentang sejarah perlawanan buruh dan nilai-nilai keadilan sosial yang diamanatkan Pancasila.
Apa yang dimaksud Presiden Prabowo dengan konsep “Indonesia Incorporated”?
Konsep ini memandang seluruh rakyat Indonesia sebagai pemegang saham atas kekayaan bangsa, sehingga negara berkewajiban memastikan hasil kekayaan tersebut dinikmati secara adil oleh semua lapisan masyarakat, bukan hanya segelintir elite.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.