Summarize the post with AI

PUNGGAWANEWS, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto kembali bersiap melangkah ke panggung diplomasi internasional. Pekan ini, ia dijadwalkan bertolak menuju Rusia untuk melangsungkan pertemuan dengan Presiden Vladimir Putin, sebuah lawatan yang disebut para pejabat sebagai salah satu yang paling strategis dalam agenda luar negeri pemerintahan saat ini.

Menteri Luar Negeri Sugiono membenarkan rencana kunjungan tersebut dan menyatakan akan turut mendampingi Presiden dalam perjalanan itu. Ia menggarisbawahi bahwa misi ini bukan sekadar kunjungan diplomatik biasa, melainkan menyangkut kepentingan vital bangsa Indonesia di tengah lanskap geopolitik yang terus bergeser.

“Berangkatnya minggu ini. Ini merupakan sesuatu yang sifatnya sangat strategis bagi bangsa Indonesia. Beliau akan bertemu dengan Presiden Putin,” ujar Sugiono usai menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional PB IPSI di Jakarta, Sabtu. Meski demikian, ia belum mengungkap kepastian tanggal keberangkatan, apakah berlangsung Sabtu malam atau Minggu.

Agenda pertemuan kedua kepala negara akan mencakup sejumlah isu krusial, dengan sektor energi sebagai topik utama yang tak bisa diabaikan. Sugiono menegaskan bahwa situasi energi global menjadi salah satu pokok bahasan yang pasti akan dibicarakan dalam pertemuan tersebut.

Lawatan kali ini menandai kunjungan ketiga Prabowo ke Rusia sejak resmi menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Sebelumnya, ia telah mengunjungi Moskow pada 10 Desember 2025 dan Saint Petersburg pada pertengahan Juni 2025. Bahkan jauh sebelum dilantik, Prabowo yang kala itu masih berstatus presiden terpilih telah lebih dulu menemui Putin di Moskow pada Juli 2024.

Dalam setiap pertemuan tersebut, kolaborasi energi selalu menjadi inti pembicaraan, termasuk rencana pengembangan energi baru dan terbarukan serta teknologi nuklir untuk kepentingan damai. Putin sendiri telah menyatakan kesiapan penuh negaranya untuk bermitra dengan Indonesia dalam pengembangan energi nuklir.

Intensitas diplomasi energi Indonesia belakangan ini bukan tanpa alasan. Eskalasi konflik di Timur Tengah dan terganggunya distribusi minyak dunia akibat ketegangan di Selat Hormuz memaksa pemerintah bergerak cepat mengantisipasi potensi krisis pasokan energi nasional. Sebelum ke Rusia, Prabowo telah lebih dahulu menyambangi Jepang dan Korea Selatan dalam misi serupa.

Prabowo sendiri tak segan merespons kritik yang menyebutnya terlalu sering bepergian ke luar negeri. Di hadapan para menteri dan pejabat eselon I dalam Rapat Kerja Pemerintah di Istana, Jakarta, Rabu lalu, ia menegaskan bahwa perjalanan-perjalanan itu bukan perjalanan wisata, melainkan bagian dari tanggung jawab negara.

“Dibilang Prabowo jalan-jalan ke luar negeri, senang jalan-jalan ke luar negeri. Saudara-saudara, untuk amankan minyak, saya harus ke mana-mana,” tegasnya dengan nada lantang.

Ia bahkan secara terang-terangan mengisyaratkan bahwa agenda kunjungan luar negeri berikutnya sudah menanti, meski enggan menyebut negara tujuan secara spesifik. “Aku mau berangkat lagi ke sebuah negara. Nanti begitu aku berangkat, kau tahu ke mana. Amankan juga,” kata Prabowo di depan jajaran kabinetnya.

Bagi Prabowo, diplomasi aktif adalah harga yang harus dibayar untuk menjaga roda perekonomian Indonesia tetap berputar di tengah dunia yang semakin tidak menentu. Kunjungan ke Moskow pekan ini menjadi salah satu bukti nyata komitmen itu.



Follow Widget