Prabowo tidak menyembunyikan kegeramannya. Ia menyebut kondisi sebelumnya sebagai sesuatu yang tidak masuk akal: nasabah miskin yang meminjam antara Rp2 juta hingga Rp10 juta justru menanggung bunga 24 persen, sementara para pengusaha besar menikmati bunga kredit hanya 9 persen.

“Bayangkan orang kaya dikasih 9%, orang miskin 24%—ini negara Pancasila,” kata Prabowo dengan nada tajam. Pernyataan itu mencerminkan keyakinannya bahwa sistem keuangan yang berjalan selama ini bertentangan dengan nilai-nilai dasar keadilan sosial yang menjadi fondasi republik.