NGANJUK, PUNGGAWANEWS – Sebuah penghormatan yang sudah lama dinantikan akhirnya terwujud. Presiden Prabowo Subianto meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu, 16 Mei 2026 — mengabadikan nama seorang buruh perempuan yang tewas setelah berani menuntut haknya lebih dari tiga dekade lalu.

Kedatangan Presiden ke lokasi bukan sekadar seremonial. Prabowo terlebih dahulu mengunjungi rumah tempat Marsinah pernah hidup dan tumbuh, lalu meluangkan waktu menyapa keluarga besar almarhum. Sebuah gestur yang memberi bobot tersendiri pada acara peresmian itu.

Museum yang berdiri di atas lahan seluas 938 meter persegi ini terdiri dari dua bangunan utama: museum memorial dan rumah singgah. Keduanya dirancang bukan hanya sebagai tempat menyimpan artefak, melainkan sebagai ruang edukasi dan refleksi bagi siapa pun yang datang berkunjung.

Di dalam museum, Presiden Prabowo menyaksikan langsung koleksi peninggalan Marsinah yang dipamerkan. Ada baju seragam pabrik yang pernah ia kenakan setiap hari, tas dan dompet yang menemaninya bekerja, sepeda ontel yang menjadi kendaraan sehari-harinya, hingga dokumen-dokumen pribadi seperti ijazah dari sekolah dasar hingga menengah atas. Piagam penghargaan dari berbagai organisasi buruh turut terpajang, menjadi bukti diam bahwa perjuangan Marsinah diakui jauh melampaui batas pabrik tempatnya bekerja.

Marsinah adalah buruh PT Catur Putra Surya di Porong, Sidoarjo. Ia dikenal sebagai sosok yang vokal menuntut kenaikan upah dan perbaikan kondisi kerja. Pada Mei 1993, ia ditemukan tewas dengan tanda-tanda penganiayaan berat. Kasusnya tak pernah benar-benar tuntas di meja pengadilan, namun namanya justru menjadi simbol perlawanan yang tak padam.

Dalam sambutannya, Prabowo menyebut kehadiran museum ini sebagai peristiwa yang ia nilai langka — bahkan dalam skala dunia.

“Ini adalah sekiranya mungkin peristiwa yang langka, mungkin di seluruh dunia baru sekarang ada museum buruh. Tapi tolong dicek, mungkin pasti adalah. Tapi ini peristiwa langka,” ujar Presiden Prabowo di hadapan hadirin.

Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Museum yang secara khusus didedikasikan untuk mengenang perjuangan seorang buruh memang bukan hal yang jamak ditemukan, baik di Indonesia maupun di negara-negara lain. Keberadaannya menjadi pernyataan simbolik yang kuat: bahwa negara mengakui perjuangan rakyat kecil layak diabadikan.

Prabowo juga menegaskan makna museum ini sebagai tonggak peringatan atas keberanian seorang perempuan muda yang berdiri di garis depan perjuangan kaum yang tak punya kuasa.

“Saya kira museum ini didirikan sebagai lambang, sebagai simbol dan sebagai tonggak peringatan untuk memperingati keberanian seorang pejuang. Seorang pejuang muda, seorang pejuang perempuan yang berjuang untuk hak-hak kaum buruh,” kata Presiden.

Prabowo kemudian menandatangani prasasti sebagai penanda resmi dibukanya museum tersebut untuk publik. Momen itu sekaligus menutup rangkaian kunjungan yang sarat muatan simbolik — antara kepala negara, keluarga almarhum, dan warisan perjuangan yang kini memiliki tempat permanen untuk diingat.

Kehadiran museum ini juga diharapkan memberi dampak nyata bagi Kabupaten Nganjuk. Pemerintah berharap kompleks Museum Ibu Marsinah dapat berkembang menjadi destinasi wisata edukasi sejarah, menarik pengunjung dari berbagai daerah yang ingin memahami lebih dalam tentang gerakan buruh Indonesia dan perjalanan panjang perjuangan hak asasi manusia di negeri ini.

Bagi generasi muda, museum ini bisa menjadi ruang belajar yang tidak ditemukan di dalam buku teks. Kisah Marsinah bukan hanya tentang seorang buruh yang berani. Ia adalah cermin dari ketimpangan yang masih terus relevan: tentang siapa yang boleh bersuara, dan apa yang terjadi ketika suara itu terlalu keras untuk dibiarkan.

Peresmian museum ini juga datang di tengah momentum yang tidak bisa diabaikan. Pemerintahan Prabowo tengah berupaya membangun citra yang berpihak pada kelompok pekerja dan masyarakat bawah. Meresmikan monumen untuk Marsinah — sosok yang justru menjadi korban di masa pemerintahan sebelumnya — adalah pernyataan politik tersendiri, meski tidak diucapkan secara eksplisit.

Yang jelas, nama Marsinah kini tidak hanya hidup dalam memori gerakan buruh. Ia telah mendapat tempatnya yang permanen — terukir di prasasti, tersimpan dalam kaca museum, dan semoga, terpatri dalam kesadaran bangsa tentang arti keberanian dan keadilan.

FAQ

Siapa Marsinah dan mengapa ia dianggap penting dalam sejarah buruh Indonesia?

Marsinah adalah buruh pabrik asal Nganjuk yang dikenal berani memperjuangkan hak-hak pekerja di PT Catur Putra Surya, Sidoarjo. Ia ditemukan tewas pada Mei 1993 setelah vokal menuntut kenaikan upah. Kasusnya yang tak tuntas menjadikannya simbol perjuangan buruh dan korban pelanggaran HAM yang terus dikenang hingga kini.

Apa saja yang bisa dilihat di Museum Ibu Marsinah di Nganjuk?

Museum ini menyimpan berbagai koleksi peninggalan Marsinah, antara lain seragam kerja pabrik, tas, dompet, sepeda ontel, ijazah sekolah, hingga piagam penghargaan dari organisasi buruh. Selain museum memorial, kompleks ini juga dilengkapi rumah singgah yang dirancang sebagai ruang edukasi dan refleksi bagi pengunjung.

Mengapa Presiden Prabowo menyebut Museum Marsinah sebagai peristiwa langka?

Prabowo menilai museum yang secara khusus didedikasikan untuk mengenang perjuangan seorang buruh adalah hal yang sangat jarang ada, bahkan di tingkat dunia. Pernyataan ini menegaskan bahwa negara memberikan pengakuan resmi atas perjuangan kaum pekerja melalui pendirian monumen permanen.