Dengan suara tegas, Prabowo melantunkan setiap kata dalam naskah bersejarah itu. Ada sesuatu yang berbeda ketika kata-kata proklamasi dibacakan bukan sebagai hafalan, melainkan sebagai pengingat tentang tanggung jawab yang masih terus diemban oleh setiap generasi.
Setelah pembacaan naskah selesai, Presiden Prabowo memimpin seluruh peserta upacara untuk mengheningkan cipta. Hening. Tak ada suara selain angin dan gemerisik dedaunan. Momen itu dipersembahkan untuk mengenang para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi merah putih yang kini berkibar bebas.
Suasana semakin syahdu ketika Menteri Agama Nasaruddin Umar memandu pembacaan doa. Lantunan doa itu mengalir, membawa harapan agar bangsa Indonesia senantiasa diberkati, dilindungi, dan dituntun menuju cita-cita kemerdekaan yang sesungguhnya.
Prosesi kemudian berlanjut ke salah satu momen yang paling dinantikan: pengibaran bendera Merah Putih oleh Pasukan Pengibar Bendera Pusaka atau Paskibraka. Tim yang mengemban kehormatan ini diberi nama “Indonesia Berdaulat,” selaras dengan tema peringatan kemerdekaan tahun ini.
Kehormatan membawa Sang Saka Merah Putih jatuh kepada Celina Olivia Apriani Theo, putri terbaik dari Provinsi Kalimantan Barat. Langkahnya mantap, tatapannya lurus ke depan. Di pundaknya tersimpan kepercayaan seluruh bangsa untuk mengantarkan bendera kebangsaan menuju tiangnya.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.