Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Sony Sonjaya, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan 900 SPPG khusus untuk beroperasi di wilayah terpencil. Pernyataan itu ia sampaikan dalam konferensi pers di Kantor Kemenko PMK pada 16 April 2026 lalu. “Insya Allah mungkin tidak lebih dari satu bulan, 900 SPPG pada daerah terpencil itu sudah siap operasional,” kata Sony dengan optimistis.

Jangkauan program ini tidak berhenti pada piring makan siang anak sekolah. Di balik setiap porsi yang tersaji, ada rantai ekonomi yang bergerak. Lebih dari 119.000 pemasok aktif — terdiri dari koperasi, Badan Usaha Milik Daerah, dan pelaku usaha mikro kecil menengah — setiap hari mengirimkan bahan kebutuhan ke ribuan titik SPPG di seluruh Indonesia.

Fakta ini mengubah cara pandang terhadap MBG. Program makan siang yang tampak sederhana itu sesungguhnya adalah roda penggerak ekonomi lokal yang massif. Petani, pedagang pasar, pelaku UMKM, hingga koperasi desa semuanya terlibat dalam ekosistem ini — dan semuanya merasakan manfaat ekonominya secara langsung.

Kunjungan Presiden ke Gorontalo pun menjadi simbol dari pendekatan yang ingin ditunjukkan pemerintah: kebijakan tidak hanya dirumuskan di belakang meja, tetapi dicek langsung ke lapangan. Ketika Prabowo bertanya soal MBG kepada nelayan Gorontalo, ia sedang memperlihatkan bahwa tidak ada daerah yang terlalu jauh untuk diperhatikan.