Namun Prabowo juga memberi catatan penting soal sasaran program ini. Pemerintah, tegasnya, tidak bermaksud memaksakan MBG kepada sekolah yang mayoritas siswanya berasal dari keluarga berkecukupan. Program ini sejak awal dirancang untuk mereka yang benar-benar membutuhkan — anak-anak dari keluarga yang tidak selalu mampu menyediakan sarapan bergizi setiap hari.
“Kalau anak orang kaya tidak perlu, tidak apa-apa, tidak dipaksa. Tapi kita ingin anak-anak kuat, kita ingin anak-anak semangat, pintar dan rajin belajar,” ujar Prabowo. Kalimat itu mencerminkan filosofi program MBG: berpihak kepada yang memerlukan, tanpa memaksakan kepada yang tidak.
Di balik pernyataan Presiden, mesin besar pelaksanaan MBG tengah berputar penuh. Badan Gizi Nasional selaku pengelola teknis program ini telah membangun infrastruktur yang tidak kecil. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 27.006 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG telah terverifikasi secara nasional, dengan sekitar 25.000 di antaranya sudah mulai beroperasi aktif.
Angka itu bukanlah angka statis. Pemerintah tengah mendorong ekspansi program ke wilayah-wilayah yang selama ini paling sulit dijangkau: daerah tertinggal, terdepan, dan terluar, atau yang dikenal dengan istilah 3T. Wilayah-wilayah ini kerap menjadi titik buta kebijakan sosial — dan MBG kini berupaya hadir di sana.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.