Presiden juga menyampaikan apresiasi atas gerak cepat personel TNI-Polri di berbagai sektor dan wilayah seluruh Indonesia. Pujian dari seorang presiden berlatar militer kepada para prajuritnya memang terdengar natural — tapi dalam konteks bencana berlapis seperti ini, apresiasi itu juga berfungsi sebagai sinyal: kerja cepat dihargai, dan standar ini diharapkan bertahan.

Yang patut dicatat adalah pilihan lokasi dan waktu pertemuan. Hambalang di hari Minggu. Bukan Istana, bukan jam kerja reguler. Ini bukan pertama kalinya Presiden Prabowo memilih kediaman pribadinya sebagai ruang kerja — sebuah gaya yang sebagian kalangan baca sebagai efisiensi, sebagian lain sebagai sinyal bahwa batas antara waktu pribadi dan waktu kerja seorang presiden memang tipis, atau bahkan tidak ada.

Pilihan untuk memanggil langsung Panglima TNI dan Kepala Staf Angkatan — bukan sekadar menelepon atau mengirim arahan tertulis — juga menggambarkan pendekatan komando langsung yang khas dari seorang presiden berlatar militer. Verifikasi dilakukan tatap muka, bukan lewat memo.

Kalimantan dan NTT kini menjadi dua ruang ujian nyata bagi kemampuan negara merespons bencana secara simultan. Apakah 17 pesawat water bombing cukup? Apakah 1.500 personel akan efektif di medan gambut yang berapi? Apakah 200 pompa dan pipa akan menjangkau titik-titik yang paling kritis? Pertanyaan-pertanyaan itu belum sepenuhnya terjawab malam itu di Hambalang.



Follow Widget