Di NTT, penduduk yang terdampak bencana tengah menunggu. Di Kalimantan, kabut asap masih menggantung. Sementara di ketinggian beberapa ribu kaki, enam pesawat membelah langit dini hari, membawa ton demi ton bukti bahwa negara—setidaknya kali ini—memilih untuk hadir.

Pemerintah menegaskan bahwa masyarakat terdampak tidak berjalan sendiri. Kita hadir dan membersamai mereka. Kalimat itu mudah diucapkan. Yang lebih sulit adalah membuktikannya—bukan di podium, melainkan di titik-titik distribusi di pelosok NTT dan di pinggir lahan gambut Kalimantan yang masih membara.

Pengiriman tahap ini baru permulaan. Masih ada 1.500 unit pompa air yang akan menyusul secara bertahap. Masih ada kebutuhan pangan yang terus bertambah seiring meluasnya dampak bencana. Dan masih ada pertanyaan yang lebih besar: apakah kecepatan respons hari ini akan konsisten, atau akan melambat begitu sorotan media mulai beralih ke berita lain?

Untuk sementara, jawaban itu ditunda. Yang pasti, dini hari tadi enam pesawat sudah terbang. Dan itu, dalam konteks bencana yang membutuhkan kecepatan, adalah hal yang tidak boleh dianggap remeh.



Follow Widget