Pernyataan bersama kedua pemimpin juga menyentuh eskalasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Keduanya menyerukan pengendalian diri dari semua pihak yang terlibat, serta mengingatkan bahwa setiap eskalasi konflik membawa konsekuensi yang jauh melampaui wilayah konflik itu sendiri. Stabilitas global, termasuk kelangsungan perekonomian dunia, ikut dipertaruhkan.
Prabowo mengingatkan bahwa eskalasi yang tidak terkendali akan menghantam kehidupan masyarakat sipil yang paling rentan—mereka yang tidak punya suara dalam pengambilan keputusan perang, namun menanggung beban paling berat dari akibatnya. Karena itu, seruan deeskalasi harus didengar, dan Piagam PBB harus kembali menjadi kompas bersama komunitas internasional.
“Kami terus menganjurkan deeskalasi, pengendalian diri, penghormatan terhadap kedaulatan, hukum internasional, sesuai dengan piagam PBB, serta menekankan pentingnya dialog dan diplomasi,” tandas Presiden Prabowo.
Pertemuan Prabowo dan El-Sisi di Jakarta ini bukan sekadar kunjungan diplomatik rutin. Ia terjadi di tengah situasi Timur Tengah yang masih jauh dari kata stabil—dan di saat komunitas internasional semakin diuji untuk bersikap lebih tegas. Bagi Indonesia dan Mesir, pertemuan ini adalah penegasan bahwa keduanya tidak akan berdiam diri, dan bahwa solidaritas terhadap Palestina tetap menjadi poros utama kebijakan luar negeri masing-masing.
Komitmen yang lahir dari Istana Merdeka pada Minggu sore itu mungkin belum cukup untuk mengakhiri konflik. Namun ia menambah satu suara lagi dalam paduan yang terus mendesak dunia untuk memilih jalan damai—sebelum eskalasi berikutnya mengubah segalanya menjadi jauh lebih buruk.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.