Dari pihak Mesir, Presiden El-Sisi memetakan kondisi dunia yang ia nilai semakin rentan. Berbagai konflik yang pecah di sejumlah penjuru dunia, menurutnya, bukan hanya soal pertumpahan darah di satu kawasan—melainkan ancaman nyata terhadap keamanan dan stabilitas global secara keseluruhan. Karena itu, baik Indonesia maupun Mesir menyepakati satu prinsip dasar: dialog dan diplomasi harus selalu didahulukan sebelum opsi apapun yang berpotensi memperkeruh keadaan.
El-Sisi menegaskan bahwa penyelesaian semua persoalan internasional harus menghormati kedaulatan masing-masing negara dan menutup pintu bagi segala bentuk intervensi asing. Prinsip ini, baginya, bukan sekadar retorika—melainkan fondasi yang harus dijaga tegak di tengah gejolak geopolitik yang kian kompleks.
Isu Palestina menempati porsi terbesar dalam pembahasan kedua pemimpin. Presiden Prabowo tak menyembunyikan rasa prihatinnya. Ia menyebutkan secara eksplisit berbagai hal yang ia nilai sebagai pelanggaran serius: operasi militer Israel yang terus berlangsung, tindakan-tindakan provokatif, penggunaan kekerasan yang melampaui batas kepatutan, hingga jatuhnya korban dari kalangan sipil yang tidak bersalah.
Bagi Prabowo, semua itu bukan sekadar isu kemanusiaan—melainkan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan hak asasi manusia yang telah diakui dunia. Indonesia, tegasnya, mengecam keras pembangunan permukiman ilegal Israel yang terus diperluas dan dinilai semakin memperburuk prospek perdamaian.
Namun Presiden Prabowo tidak berhenti di kecaman. Ia juga mengarahkan pandangan ke solusi. Bagi Indonesia, jalan menuju perdamaian di Palestina sudah lama jelas: solusi dua negara, di mana Palestina berdiri sebagai negara merdeka yang berdaulat. Komitmen itu, kata Prabowo, tidak goyah.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.