JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Dua pemimpin dari dua negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan di Afrika berdiri berdampingan di Istana Merdeka, Jakarta, menyuarakan satu pesan yang sama: kekerasan di Palestina harus dihentikan, dan solusi dua negara adalah satu-satunya jalan menuju perdamaian yang abadi.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menerima kunjungan Presiden Republik Arab Mesir Abdel Fattah El-Sisi pada Minggu, 11 Oktober 2026. Pertemuan bilateral kedua kepala negara itu ditutup dengan pernyataan pers bersama yang sarat komitmen—terutama soal nasib rakyat Palestina yang hingga kini masih terjebak dalam pusaran konflik berkepanjangan.
Suasana di Istana Merdeka mencerminkan urgensi yang tengah dirasakan kedua bangsa. Indonesia dan Mesir, dua negara yang secara historis memiliki kedekatan diplomatik erat, sepakat bahwa situasi di Timur Tengah sudah melampaui batas toleransi komunitas internasional. Bagi keduanya, diam bukan pilihan.
Presiden Prabowo membuka pernyataannya dengan menegaskan bahwa kedua negara telah bertukar pandangan secara mendalam mengenai berbagai isu global dan regional. Ia menekankan pentingnya koordinasi dan konsultasi yang berkelanjutan, terutama dalam forum-forum internasional tempat suara Indonesia dan Mesir dapat saling memperkuat.
“Kami menekankan pentingnya kedua negara ini untuk selalu berkoordinasi, berkonsultasi, dan bekerja sama di berbagai forum internasional,” ujar Presiden Prabowo di hadapan awak media yang memenuhi ruang konferensi pers Istana Merdeka.
Dari pihak Mesir, Presiden El-Sisi memetakan kondisi dunia yang ia nilai semakin rentan. Berbagai konflik yang pecah di sejumlah penjuru dunia, menurutnya, bukan hanya soal pertumpahan darah di satu kawasan—melainkan ancaman nyata terhadap keamanan dan stabilitas global secara keseluruhan. Karena itu, baik Indonesia maupun Mesir menyepakati satu prinsip dasar: dialog dan diplomasi harus selalu didahulukan sebelum opsi apapun yang berpotensi memperkeruh keadaan.
El-Sisi menegaskan bahwa penyelesaian semua persoalan internasional harus menghormati kedaulatan masing-masing negara dan menutup pintu bagi segala bentuk intervensi asing. Prinsip ini, baginya, bukan sekadar retorika—melainkan fondasi yang harus dijaga tegak di tengah gejolak geopolitik yang kian kompleks.
Isu Palestina menempati porsi terbesar dalam pembahasan kedua pemimpin. Presiden Prabowo tak menyembunyikan rasa prihatinnya. Ia menyebutkan secara eksplisit berbagai hal yang ia nilai sebagai pelanggaran serius: operasi militer Israel yang terus berlangsung, tindakan-tindakan provokatif, penggunaan kekerasan yang melampaui batas kepatutan, hingga jatuhnya korban dari kalangan sipil yang tidak bersalah.
Bagi Prabowo, semua itu bukan sekadar isu kemanusiaan—melainkan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional dan hak asasi manusia yang telah diakui dunia. Indonesia, tegasnya, mengecam keras pembangunan permukiman ilegal Israel yang terus diperluas dan dinilai semakin memperburuk prospek perdamaian.
Namun Presiden Prabowo tidak berhenti di kecaman. Ia juga mengarahkan pandangan ke solusi. Bagi Indonesia, jalan menuju perdamaian di Palestina sudah lama jelas: solusi dua negara, di mana Palestina berdiri sebagai negara merdeka yang berdaulat. Komitmen itu, kata Prabowo, tidak goyah.
“Menurut pandangan kami, Indonesia apalagi, tetap berpandangan bahwa terwujudnya negara Palestina berdasarkan solusi dua negara adalah satu-satunya jalan untuk mencapai perdamaian di kawasan tersebut. Kami berkomitmen penuh mendukung perjuangan rakyat Palestina untuk menentukan nasibnya sendiri dan hidup dalam perdamaian,” tegas Presiden Prabowo.
Presiden El-Sisi menggemakan pandangan yang sama. Sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Gaza, Mesir memiliki kepentingan yang sangat nyata dalam melihat stabilitas dipulihkan di kawasan tersebut. El-Sisi menilai perkembangan di Palestina memiliki efek domino yang jauh melampaui batas-batas geografis konflik itu sendiri—dan itulah mengapa isu ini menjadi salah satu pembahasan paling penting dalam pertemuannya dengan Prabowo.
Bagi El-Sisi, terwujudnya negara Palestina yang merdeka bukan sekadar aspirasi moral. Itu adalah syarat mutlak bagi perdamaian yang menyeluruh dan berkelanjutan di seluruh kawasan Timur Tengah. “Itulah jalan satu-satunya untuk mewujudkan perdamaian yang komprehensif,” katanya dengan nada yang tidak memberi ruang keraguan.
Di luar dimensi politik, Indonesia dan Mesir juga menyoroti tanggung jawab kemanusiaan yang tidak bisa ditunda. Keduanya sepakat untuk terus berkontribusi dalam pengiriman bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina—termasuk mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi Gaza yang porak-poranda akibat konflik berkepanjangan. Bagi kedua negara, bantuan nyata di lapangan adalah pelengkap tak terpisahkan dari perjuangan diplomatik di meja perundingan.
Presiden Prabowo secara khusus menekankan bahwa dukungan Indonesia tidak berhenti pada pernyataan simbolis. Jakarta, tegasnya, akan terus aktif mendorong proses perdamaian dan memastikan bantuan kemanusiaan mengalir ke tangan rakyat Palestina yang membutuhkan.
Pernyataan bersama kedua pemimpin juga menyentuh eskalasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. Keduanya menyerukan pengendalian diri dari semua pihak yang terlibat, serta mengingatkan bahwa setiap eskalasi konflik membawa konsekuensi yang jauh melampaui wilayah konflik itu sendiri. Stabilitas global, termasuk kelangsungan perekonomian dunia, ikut dipertaruhkan.
Prabowo mengingatkan bahwa eskalasi yang tidak terkendali akan menghantam kehidupan masyarakat sipil yang paling rentan—mereka yang tidak punya suara dalam pengambilan keputusan perang, namun menanggung beban paling berat dari akibatnya. Karena itu, seruan deeskalasi harus didengar, dan Piagam PBB harus kembali menjadi kompas bersama komunitas internasional.
“Kami terus menganjurkan deeskalasi, pengendalian diri, penghormatan terhadap kedaulatan, hukum internasional, sesuai dengan piagam PBB, serta menekankan pentingnya dialog dan diplomasi,” tandas Presiden Prabowo.
Pertemuan Prabowo dan El-Sisi di Jakarta ini bukan sekadar kunjungan diplomatik rutin. Ia terjadi di tengah situasi Timur Tengah yang masih jauh dari kata stabil—dan di saat komunitas internasional semakin diuji untuk bersikap lebih tegas. Bagi Indonesia dan Mesir, pertemuan ini adalah penegasan bahwa keduanya tidak akan berdiam diri, dan bahwa solidaritas terhadap Palestina tetap menjadi poros utama kebijakan luar negeri masing-masing.
Komitmen yang lahir dari Istana Merdeka pada Minggu sore itu mungkin belum cukup untuk mengakhiri konflik. Namun ia menambah satu suara lagi dalam paduan yang terus mendesak dunia untuk memilih jalan damai—sebelum eskalasi berikutnya mengubah segalanya menjadi jauh lebih buruk.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.