Pesantren selama ini dikenal sebagai tulang punggung pendidikan Islam di Indonesia. Ratusan ribu santri setiap tahunnya menimba ilmu di ribuan pondok pesantren yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Namun ironisnya, selama bertahun-tahun lembaga pendidikan ini hanya mendapat porsi perhatian sebagai “anak bawang” dalam struktur birokrasi Kementerian Agama — tergabung di bawah Direktorat Pendidikan Islam tanpa ruang gerak yang memadai.

Pembentukan Dirjen Pesantren menjadi jawaban atas tuntutan yang sudah lama bergema di kalangan pengasuh dan alumni pesantren. Mereka menginginkan lembaga tersebut punya jalur birokrasi sendiri agar urusan pengembangan kurikulum, sertifikasi guru, hingga penguatan ekonomi pesantren bisa ditangani secara lebih fokus dan terstruktur.

Nasaruddin tidak menyembunyikan rasa syukurnya. Ia menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo atas keberanian mengambil keputusan strategis ini. Menurutnya, dengan adanya direktorat khusus, pondok pesantren akan mendapatkan perhatian yang lebih terfokus dari pemerintah, tidak lagi terdilusi oleh berbagai urusan lembaga pendidikan Islam lainnya.

“Kita berterima kasih kepada Presiden atas keputusannya yang luar biasa ini. Dengan demikian pondok pesantren akan mendapat perhatian khusus dari pemerintah,” ujar Nasaruddin.

Keberadaan Dirjen Pesantren diharapkan membawa perubahan konkret, bukan sekadar perubahan nomenklatur semata. Para pemangku kepentingan pesantren berharap direktorat baru ini mampu mempercepat alokasi anggaran yang lebih besar, memperkuat program pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren, serta mendorong standardisasi mutu pendidikan tanpa menghilangkan kekhasan dan kemandirian masing-masing pondok.



Follow Widget