JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Bonus demografi bukan sekadar angka. Di balik melimpahnya penduduk usia produktif, tersembunyi peluang besar yang bisa menentukan arah bangsa—dan perempuan berada di jantungnya.
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga) sekaligus Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menegaskan bahwa perempuan bukan sekadar bagian dari pembangunan nasional. Mereka adalah penggerak utama perubahan menuju Indonesia Emas 2045.
Pernyataan ini disampaikan Isyana pada Minggu, 3 Mei 2025, dilansir dari ANTARA. Menurutnya, Indonesia kini tengah berada pada momen krusial: jumlah penduduk usia produktif melampaui usia nonproduktif—sebuah jendela demografis yang hanya terbuka sekali dalam perjalanan sebuah bangsa.
Peluang itu, kata Isyana, hanya bisa dimanfaatkan secara optimal jika kualitas sumber daya manusia diperkuat. Dan di sinilah peran perempuan menjadi tak tergantikan.
“Perempuan bukan hanya bagian dari pembangunan, melainkan penggerak utama perubahan. Jika infrastruktur telah diperkuat, maka peningkatan kualitas sumber daya manusia, utamanya perempuan, menjadi hal yang sangat krusial,” ujar Isyana, merujuk pada AstaCita keempat Presiden Prabowo Subianto.
Dalam konteks ini, ibu dinilai memegang peranan paling sentral. Mulai dari mendidik anak, merawat keluarga, hingga mengelola kehidupan rumah tangga—semuanya bertumpu pada figur ibu sebagai poros keluarga.
Isyana menyambungkan peran itu dengan program pemerintah yang sedang berjalan, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD. Program ini bukan sekadar soal gizi—melainkan investasi jangka panjang dalam menyiapkan generasi sehat sejak sebelum lahir.
Pembangunan bangsa, menurut Isyana, harus dimulai dari unit terkecil: keluarga. Itulah mengapa pembentukan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) pada Oktober 2024 menjadi tonggak penting. Lembaga ini hadir untuk memperkuat keluarga sebagai fondasi pembangunan nasional yang sesungguhnya.
Namun tantangan tidak berhenti di sana. Seiring pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan dinamika sosial, pola pengasuhan anak pun semakin kompleks. Orang tua tak bisa lagi mengandalkan cara-cara lama.
“Dunia terus bergerak, cara kita berkomunikasi juga berubah. Orang tua harus mau terus belajar dan meningkatkan pengetahuan agar bisa mendampingi anak dengan tepat,” tegas Wamendukbangga.
Untuk menjawab tantangan itu, Kemendukbangga/BKKBN mengusung pendekatan berbasis siklus hidup dalam setiap programnya. Intervensi dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan—dari masa kehamilan, balita, remaja, hingga usia lanjut. Tidak ada fase kehidupan yang dilewatkan.
“Pendekatan yang kami lakukan berbasis siklus hidup, mulai dari dalam kandungan, balita, remaja, hingga lansia, agar pembangunan manusia berjalan utuh dan berkelanjutan,” jelas Isyana.
Dua kelompok mendapat perhatian khusus dalam kerangka ini: remaja dan lansia. Remaja dinilai menghadapi tekanan yang kian berat, termasuk dalam hal kesehatan mental. Untuk itu, pemerintah menghadirkan layanan konseling agar mereka punya ruang berbagi dan mendapatkan solusi tanpa merasa sendirian.
Sementara itu, lansia tak hanya dilihat sebagai beban demografis, melainkan sebagai potensi yang harus dijaga produktivitasnya. Isyana menyebutnya sebagai bagian dari “bonus demografi kedua”—sebuah perspektif yang memandang panjang usia harapan hidup sebagai aset, bukan sekadar statistik.
“Kita juga harus memastikan lansia tetap berdaya dan produktif, karena ini menjadi bagian dari yang kita sebut sebagai bonus demografi kedua,” pungkas Isyana.
Di tengah persaingan global yang makin ketat, Indonesia tampaknya telah meletakkan taruhannya: kemenangan ditentukan bukan oleh kekuatan militer atau kekayaan alam semata, melainkan oleh kualitas manusianya—dan perempuan ada di garis terdepan perjuangan itu.
FAQ :
Apa yang dimaksud dengan bonus demografi yang disebut Wamendukbangga? Bonus demografi adalah kondisi di mana jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan usia nonproduktif. Indonesia tengah berada pada fase ini, yang dianggap sebagai peluang emas untuk mendorong pertumbuhan dan pembangunan kualitas sumber daya manusia.
Mengapa perempuan dianggap sebagai kunci dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045? Menurut Wamendukbangga Isyana, perempuan—terutama ibu—memegang peran sentral dalam mendidik, merawat, dan membentuk karakter generasi penerus. Kualitas generasi masa depan sangat bergantung pada kualitas pengasuhan yang diberikan sejak dini.
Apa itu pendekatan berbasis siklus hidup yang diterapkan Kemendukbangga/BKKBN? Pendekatan ini berarti intervensi program pembangunan manusia dilakukan di setiap tahap kehidupan, mulai dari masa kehamilan, balita, remaja, hingga lansia. Tujuannya adalah memastikan pembangunan manusia berlangsung utuh, menyeluruh, dan tidak terputus di tengah jalan.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.