Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul angkat bicara tak lama setelah insiden terjadi. Ia menegaskan bahwa serangan ini bisa jauh lebih dahsyat. Pelaku masih menyimpan lebih dari 30 peluru ketika aksinya berakhir—sebuah fakta yang membuat bulu kuduk merinding, sekaligus memunculkan pertanyaan besar tentang bagaimana skenario terburuk berhasil dicegah.
Anutin menyebut tekanan akademik sebagai salah satu faktor yang diduga memicu tindakan ekstrem sang pelaku. Pernyataan ini seketika membuka perdebatan luas di kalangan publik Thailand tentang beban psikologis yang ditanggung anak-anak di tengah sistem pendidikan yang kompetitif.
Saksi mata dari kalangan siswa menggambarkan suasana yang mencekam. Seorang pelajar menuturkan bagaimana ia dan teman-temannya berlindung di dalam kelas selama hampir 30 menit, menahan napas, berharap pelaku tidak mengetuk—atau mendobrak—pintu ruangan mereka. Ketakutan itu nyata, dan bekasnya tidak akan mudah hilang.
Di luar gerbang sekolah, pemandangan tak kalah memilukan. Ambulans keluar masuk tanpa henti. Para orang tua berdatangan dengan wajah pucat, berlomba menjemput anak-anak mereka sebelum berita buruk lain sempat menyusul. Isak tangis bercampur dengan teriakan nama, menciptakan kekacauan yang sunyi sekaligus menyayat.
UNICEF langsung menyoroti insiden ini dari sudut yang berbeda. Organisasi PBB untuk anak-anak itu menekankan usia pelaku yang masih sangat muda sebagai pengingat keras akan pentingnya layanan kesehatan mental bagi anak-anak. Ketika seorang anak berusia 14 tahun sanggup melakukan tindakan sekeji ini, ada sesuatu yang sudah gagal jauh sebelum peluru pertama ditembakkan.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.