TIONGKOK, PUNGGAWANEWS – Ketua MPR RI Ahmad Muzani melakukan pertemuan penting dengan Ketua National People’s Congress (NPC) Tiongkok Zhao Leji di Beijing, Selasa, 22 September 2026. Pertemuan ini bukan sekadar agenda diplomatik rutin — melainkan penegasan bahwa hubungan Indonesia dan Tiongkok terus menguat di tengah dinamika geopolitik kawasan yang terus bergerak.
Kunjungan Muzani ke ibu kota Tiongkok merupakan kunjungan balasan atas undangan langsung dari Zhao Leji. Sebelumnya, kedua tokoh telah lebih dulu bertemu di Jakarta pada Desember 2025, dan pertemuan Beijing ini menjadi kelanjutan dari dialog yang telah terjalin.
Muzani menggambarkan suasana pertemuan tersebut sebagai momen yang khas: akrab namun berbobot. Di balik obrolan yang santai, keduanya membahas sejumlah isu strategis yang menyangkut kepentingan dua negara dengan populasi gabungan lebih dari satu miliar jiwa.
“Pembicaraan berlangsung sangat akrab, santai, namun serius dan penuh makna. Kami menyepakati sejumlah poin penting untuk mempererat hubungan Indonesia dan Tiongkok,” ujar Muzani dalam keterangan pers yang diterima Selasa, 22 September 2026.
Setidaknya tiga agenda besar menjadi fokus pembicaraan dalam pertemuan tersebut. Pertama, penguatan hubungan bilateral antara kedua negara. Kedua, penghormatan terhadap kedaulatan dan kepentingan nasional masing-masing pihak. Ketiga, komitmen bersama untuk menjaga stabilitas dan perdamaian di kawasan Asia.
Poin kedua menjadi sorotan tersendiri, mengingat dinamika di Laut China Selatan yang kerap menjadi titik tegangan antara negara-negara ASEAN dengan Beijing. Penegasan saling menghormati kedaulatan menjadi sinyal positif bagi postur diplomasi Indonesia yang selama ini mengedepankan prinsip non-blok.
Dalam forum tersebut, Muzani tak hanya bicara soal hubungan masa kini. Ia membawa percakapan ke akar sejarah yang lebih dalam — jauh sebelum era diplomasi modern berdiri.
Muzani mengingatkan bahwa hubungan Indonesia dan Tiongkok telah resmi terjalin lebih dari 75 tahun dalam bentuk hubungan diplomatik. Namun, menurutnya, ikatan antara kedua bangsa sebenarnya jauh lebih tua dari itu.
“Hubungan sejarah kita sangat panjang. Salah satu bukti sejarah adalah ekspedisi maritim Laksamana Cheng Ho pada tahun 1405 yang mengunjungi Aceh, Palembang, Semarang, Cirebon, Gresik, hingga Surabaya,” kata Muzani di hadapan Zhao Leji.
Ekspedisi besar Laksamana Cheng Ho lebih dari enam abad silam itu disebut Muzani sebagai salah satu tonggak interaksi budaya dan perdagangan antara masyarakat Tiongkok dan Nusantara. Pelabuhan-pelabuhan di pesisir Jawa dan Sumatera menjadi saksi bisu persinggungan dua peradaban yang kemudian membentuk akar budaya sebagian masyarakat Indonesia hingga hari ini.
Narasi sejarah ini tampaknya bukan sekadar nostalgia. Muzani menggunakannya sebagai argumen bahwa fondasi hubungan kedua negara bukan hanya bertumpu pada kepentingan ekonomi semata, melainkan pada ikatan kebudayaan yang mengakar panjang.
“Fondasi sejarah dan ikatan kebudayaan yang kuat menjadikan hubungan kedua negara tetap kokoh sebagai sahabat dan mitra strategis meski sempat melewati dinamika zaman,” ujarnya.
Pernyataan ini terasa relevan jika dikaitkan dengan sejarah pasang surut hubungan Jakarta-Beijing yang pernah mengalami pembekuan panjang pasca-1965. Namun, sejak normalisasi hubungan diplomatik pada 1990, kedua negara terus membangun kembali kepercayaan dan kerja sama yang kini menjangkau sektor investasi, perdagangan, infrastruktur, hingga pertukaran budaya.
Dalam pertemuan itu, Muzani juga mengemban misi simbolis yang tidak kalah penting: menyampaikan salam Presiden RI Prabowo Subianto kepada Zhao Leji. Salam tersebut disambut hangat dan dibalas oleh Zhao Leji untuk diteruskan kepada Presiden Prabowo.
Gestur diplomatik seperti ini memang terkesan sederhana, namun dalam protokol hubungan antarnegara, pesan pribadi antarpemimpin membawa makna politis yang signifikan. Ini menunjukkan bahwa jalur komunikasi antara Jakarta dan Beijing tidak hanya berjalan di tingkat teknis, tetapi juga di level kepemimpinan tertinggi.
Di penghujung pertemuan, Muzani dan Zhao Leji menyepakati satu hal yang dinilai krusial: tradisi saling berkunjung antarpimpinan lembaga negara kedua pihak harus terus dipertahankan dan diperkuat. Bagi Muzani, agenda pertemuan seperti ini bukan sekadar formalitas kenegaraan.
Kunjungan ke Beijing ini melengkapi rangkaian agenda diplomasi parlemen Indonesia yang dalam beberapa bulan terakhir semakin aktif membangun jembatan dengan berbagai mitra strategis di kawasan Asia. Di tengah tatanan dunia yang tengah bergeser, Indonesia tampaknya memilih untuk memperkuat dialog — dan pertemuan di Beijing ini menjadi salah satu manifestasinya.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.