Modi menyebut secara khusus Ramayana dan Mahabharata. Dua epos besar dari tradisi Hindu-Budha itu tidak hanya hidup dalam teks kuno, tetapi telah mendarah daging dalam budaya Nusantara: dalam pertunjukan wayang kulit, dalam tarian tradisional seperti sendratari Ramayana di Prambanan, dalam musik gamelan yang mengiringi kisah-kisah para dewa dan ksatria.

Ia juga menyebut Borobudur dan Prambanan—dua candi megah yang menjadi bukti nyata betapa dalamnya pengaruh peradaban India dalam membentuk wajah kebudayaan Indonesia. Bagi Modi, monumen-monumen ini bukan hanya warisan arkeologi. Mereka adalah jembatan hidup yang menghubungkan dua bangsa lintas abad.

Pesan Modi kepada parlemen Indonesia sesungguhnya jelas: kedekatan historis dan kultural ini bukan sekadar kenangan masa lalu yang indah untuk dirayakan, melainkan fondasi yang kokoh bagi kerja sama masa depan. Ikatan yang telah berusia berabad-abad itu, katanya, harus menjadi modal utama untuk mempererat persahabatan dan kemitraan strategis kedua negara di era modern.

Pernyataan ini datang di tengah momentum yang tepat. India dan Indonesia sama-sama tengah memperkuat posisi mereka sebagai kekuatan baru di panggung global. India kini menjadi salah satu ekonomi terbesar di dunia, sementara Indonesia terus melaju sebagai kekuatan ekonomi utama di Asia Tenggara. Pertemuan dua pemimpin ini di forum parlemen memberi dimensi baru pada hubungan bilateral yang selama ini lebih banyak dibicarakan di tingkat pemerintah eksekutif.

Pidato di hadapan parlemen adalah salah satu gestur diplomatik paling prestisius yang bisa diberikan sebuah negara kepada pemimpin asing. Dengan mengundang Modi ke Senayan, Indonesia mengirimkan pesan kepada dunia: kemitraan dengan India adalah prioritas strategis, bukan sekadar hubungan bertetangga yang berjalan di tempat.



Follow Widget