Summarize the post with AI
PUNGGAWANEWS, JAKARTA – Menyambut perayaan Idulfitri 1447 Hijriah yang jatuh pada 2026, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat mengeluarkan imbauan khusus kepada seluruh masyarakat agar memanfaatkan momen lebaran sebagai waktu berkualitas bersama keluarga tanpa gangguan teknologi digital.
Ubaidillah, Ketua KPI Pusat, menyerukan agar masyarakat Indonesia kembali menghidupkan tradisi silaturahmi secara langsung dan mengurangi ketergantungan terhadap perangkat elektronik, khususnya gawai. Menurutnya, perayaan tahun ini harus dijadikan titik balik untuk mempererat hubungan antaranggota keluarga yang sempat renggang akibat kesibukan digital.
“Moment Lebaran kali ini sangat strategis untuk mengembalikan esensi kebersamaan. Kita perlu kembali pada interaksi tatap muka yang sesungguhnya, bukan hanya melalui layar,” ujar Ubaidillah dalam keterangannya, Rabu (18/3/2026).
Pernyataan KPI ini sejalan dengan kebijakan terbaru pemerintah yang memberlakukan pembatasan akses platform media sosial tertentu bagi anak-anak berusia di bawah 16 tahun. Regulasi tersebut dinilai sebagai langkah preventif untuk melindungi generasi muda dari dampak buruk dunia maya.
Ancaman Serius bagi Tumbuh Kembang Anak
Mengutip berbagai riset dan kajian, Ubaidillah mengungkapkan bahwa paparan gawai secara berlebihan pada anak di bawah umur dapat menimbulkan sejumlah masalah serius dalam perkembangan mereka.
Di antaranya adalah munculnya kecenderungan perilaku agresif, gangguan kesehatan mental pada usia dini, menurunnya daya konsentrasi serta kemampuan berbahasa, hingga terganggunya keterampilan sosial yang seharusnya dipelajari melalui interaksi langsung.
“Anak-anak yang terlalu lama terpapar layar gadget kehilangan kemampuan untuk bersosialisasi secara sehat. Mereka tidak belajar bagaimana berkomunikasi, berempati, atau bahkan bermain dengan teman sebayanya,” jelas Ubaidillah.
Untuk itu, ia mengimbau seluruh orang tua untuk memanfaatkan libur Lebaran dengan mengalihkan perhatian anak dari dunia digital menuju aktivitas fisik yang lebih produktif dan edukatif.
“Ajak anak menonton program televisi edukatif bersama-sama, bermain di halaman, atau sekadar mengobrol. Yang penting adalah interaksi nyata. Selama masa liburan ini, sebaiknya gawai ‘dipuasakan’ dan disimpan rapat-rapat,” tegasnya dengan nada tegas.
Revitalisasi Permainan Tradisional di Kampung Halaman
Selain itu, KPI juga mendorong para orang tua yang mudik ke kampung halaman untuk memperkenalkan kembali ragam permainan tradisional kepada anak-anak mereka. Ubaidillah menilai bahwa permainan warisan budaya tersebut tidak hanya menyenangkan, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai moral dan kearifan lokal.
“Permainan tradisional mengajarkan kerja sama, kejujuran, sportivitas, dan kreativitas. Ini adalah warisan berharga yang tidak boleh hilang ditelan zaman digital,” katanya.
Ia berharap momen mudik Lebaran tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan, tetapi benar-benar dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk menanamkan kembali akar budaya kepada generasi muda.
Himbauan ini bukan hanya ditujukan kepada anak-anak, tetapi juga kepada orang tua dan seluruh anggota keluarga. KPI mengingatkan bahwa orang tua harus menjadi teladan dalam mengurangi penggunaan gawai saat berkumpul dengan keluarga besar.
Komitmen Dukung Kebijakan Perlindungan Anak Digital
Terkait dengan kebijakan pembatasan akses media sosial untuk anak yang dikeluarkan Kementerian Komunikasi dan Informatika, KPI menyatakan dukungan penuhnya. Lembaga penyiaran ini menegaskan kesiapannya untuk berkoordinasi lintas sektor demi kesuksesan implementasi Peraturan Pemerintah (PP) Tunas yang mengatur perlindungan anak dalam ekosistem digital.
“Meski kewenangan KPI secara langsung ada di ranah siaran televisi dan radio, kami tetap berkomitmen untuk ikut serta memastikan hak-hak anak dalam bermedia dijaga dengan baik. Kolaborasi antarinstansi sangat penting demi terciptanya ekosistem media yang aman bagi anak,” pungkas Ubaidillah.
Dengan imbauan ini, KPI berharap perayaan Idulfitri 1447 H tidak hanya menjadi ajang perayaan keagamaan, tetapi juga momentum pemulihan nilai-nilai kemanusiaan dan kebersamaan yang hakiki di tengah keluarga Indonesia.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.