Agung menekankan bahwa Indonesia sejatinya memiliki kapasitas produksi telur yang tangguh sebagai penopang ketahanan pangan nasional. Namun kapasitas produksi yang besar tanpa tata niaga yang baik justru bisa berbalik menjadi beban bagi peternak itu sendiri.

“Produksi yang kuat adalah modal penting bangsa. Yang perlu diperkuat adalah tata niaga, distribusi, dan hilirisasi agar manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih merata oleh peternak rakyat,” ujar Agung.

Di lapangan, situasi belum sepenuhnya pulih, tetapi setidaknya kondisi masih terkendali. Ketua Rumah Kebersamaan BKT NT Blitar, Eti, memastikan aktivitas perdagangan telur di Blitar—salah satu sentra produksi telur terbesar di Indonesia—masih berjalan mengacu pada harga harmoni yang telah disepakati bersama antar pelaku usaha di daerah itu.

Blitar memang menjadi barometer kondisi peternakan ayam petelur nasional. Ketika harga di sana goyah, biasanya sinyal tekanan sudah merata ke berbagai daerah penghasil telur lainnya. Pernyataan Eti soal kondisi yang masih kondusif setidaknya memberi sedikit ruang napas.