Agung menyebut setidaknya empat langkah konkret yang sedang dan akan terus didorong. Pertama, penguatan serapan pasar agar produksi yang ada tidak menumpuk di kandang. Kedua, distribusi antardaerah untuk meratakan pasokan ke wilayah yang masih kekurangan. Ketiga, hilirisasi produk peternakan guna menciptakan pasar baru. Keempat, optimalisasi pemanfaatan telur dalam berbagai program pemenuhan gizi masyarakat.

Soal hilirisasi, Kementan menaruh perhatian besar. Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Ditjen PKH, Makmun, menjelaskan bahwa pengembangan produk olahan telur dan diversifikasi pemanfaatan hasil peternakan adalah kunci untuk memperluas pasar sekaligus memberikan nilai tambah bagi peternak rakyat.

Makmun menyebut potensi konsumsi telur nasional masih sangat besar dan belum tergarap sepenuhnya. Dengan edukasi gizi yang lebih masif dan perluasan pemanfaatan produk peternakan dalam program-program pemerintah, ia optimistis peluang pasar ke depan akan terus membesar.

Satu instrumen yang kini mendapat sorotan adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program yang digulirkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ini dinilai bisa menjadi katalis penyerapan telur dalam skala besar secara berkelanjutan, sekaligus menghidupkan permintaan dari bawah.