Stunting bukan sekadar persoalan fisik semata. Anak yang mengalami stunting berisiko menghadapi hambatan dalam perkembangan kognitif, yang pada akhirnya berpengaruh pada kemampuan belajar dan produktivitas mereka di masa dewasa. Investasi pada gizi anak hari ini adalah investasi pada masa depan bangsa.
Badan Gizi Nasional memandang kader Posyandu sebagai aset strategis yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal dalam program-program pemenuhan gizi nasional. Pelibatan mereka dalam MBG adalah bentuk pengakuan atas kontribusi dan kapasitas yang selama ini mereka miliki di lapangan.
Sinergi antara BGN dan jaringan Posyandu yang tersebar luas di seluruh Indonesia ini juga sekaligus menjadi uji coba model pengawasan berbasis komunitas. Jika berhasil, pola ini bisa menjadi rujukan bagi program-program pemerintah lainnya yang membutuhkan jangkauan hingga ke tingkat paling bawah.
Di banyak daerah, kader Posyandu sudah terbukti mampu menjalankan berbagai program kesehatan dengan keterbatasan sumber daya yang ada. Dedikasi mereka, yang seringkali bekerja tanpa insentif yang sebanding, menjadi fondasi kuat dari sistem kesehatan masyarakat Indonesia selama beberapa dekade.
Pelibatan kader dalam pengawasan MBG juga diharapkan dapat memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap program ini. Ketika warga melihat tetangga mereka sendiri yang menjadi pengawas, kepercayaan terhadap program cenderung meningkat dan partisipasi pun lebih mudah didorong.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.