MAKASSAR, PUNGGAWANEWS – Banyak jemaah haji memilih mengurangi minum demi menghindari bolak-balik ke kamar mandi. Keputusan yang terlihat praktis itu, menurut petugas kesehatan haji, justru menyimpan risiko serius yang bisa mengganggu kondisi fisik di tengah cuaca ekstrem Tanah Suci.
Peringatan ini disampaikan Muhammad Fathi Banna Al Faruqi, petugas kesehatan dari Sektor 1 Daker Bandara, dalam Seri Kesehatan Haji edisi kedua. Ia menegaskan bahwa strategi membatasi asupan air demi meminimalkan frekuensi ke toilet adalah kekeliruan yang berpotensi fatal.
Cuaca panas selama musim haji membuat tubuh kehilangan cairan jauh lebih cepat dari kondisi normal. Ketika jemaah memilih tidak minum, proses dehidrasi bisa berlangsung diam-diam sebelum tubuh sempat memberi sinyal yang jelas.
Dehidrasi bukan sekadar rasa haus yang mengganggu. Kondisi ini memicu serangkaian gangguan fisik: sulit berkonsentrasi, sakit kepala ringan hingga berat, tubuh terasa lemas, bahkan pingsan di tengah kerumunan. Bagi jemaah lansia atau yang memiliki riwayat penyakit tertentu, risikonya jauh lebih tinggi.
Muhammad Fathi mengingatkan bahwa sinyal haus dari tubuh sejatinya bukan penanda awal. Ketika rasa haus itu muncul, dehidrasi ringan sebenarnya sudah mulai terjadi. Artinya, menunggu haus baru minum sama saja dengan membiarkan tubuh masuk ke fase kekurangan cairan lebih dulu.
Solusi yang dianjurkan bukan minum banyak sekaligus, melainkan minum sedikit namun rutin. Petugas kesehatan merekomendasikan teknik sederhana: dua teguk setiap sepuluh menit. Pola ini dinilai lebih efektif karena tubuh memiliki kapasitas penyerapan cairan yang terbatas dalam satu waktu.
Minum dalam jumlah besar sekaligus justru kontraproduktif. Kelebihan cairan yang masuk terlalu cepat akan segera dibuang melalui urine, sehingga manfaat hidrasinya tidak optimal. Sebaliknya, pola dua teguk per sepuluh menit memberi waktu tubuh menyerap cairan secara lebih efisien.
Membawa botol minum ke mana pun pergi menjadi kunci agar akses terhadap air selalu tersedia. Kebiasaan kecil ini memastikan jemaah tidak bergantung pada ketersediaan air di titik-titik tertentu, yang kerap penuh sesak dan menyita waktu.
Ada pula catatan soal jenis minuman. Air terlalu dingin sebaiknya dihindari karena dapat menekan sensasi haus lebih cepat, menciptakan persepsi seolah tubuh sudah cukup cairan padahal belum. Ini berpotensi membuat jemaah justru minum lebih sedikit dari yang dibutuhkan.
Teh dan kopi, dua minuman yang cukup umum dikonsumsi jemaah, juga perlu dibatasi. Keduanya bersifat diuretik, artinya merangsang ginjal membuang cairan lebih cepat. Mengonsumsinya secara berlebihan di tengah cuaca panas justru mempercepat kehilangan cairan tubuh, bukan menggantinya.
Indikator paling mudah untuk memantau kondisi hidrasi adalah warna urine. Urine berwarna bening hingga kuning muda menandakan kecukupan cairan yang baik. Sebaliknya, urine yang mulai berwarna kuning pekat atau bahkan kemerahan adalah sinyal darurat bahwa tubuh membutuhkan asupan air segera.
Muhammad Fathi Banna Al Faruqi menganalogikan pola minum ini dengan prinsip ibadah yang sudah dikenal luas di kalangan jemaah: amalan yang paling utama adalah yang rutin meskipun sedikit. Prinsip yang sama berlaku untuk minum—rutin dan teratur jauh lebih bermanfaat daripada banyak sekaligus namun tidak konsisten.
Edukasi ini mengacu pada panduan hidrasi dari American Academy of Family Physicians dan sejumlah studi tentang penyakit terkait panas selama pelaksanaan ibadah haji yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Medicine. Referensi ilmiah ini memperkuat pentingnya kesadaran hidrasi sebagai bagian dari persiapan fisik sebelum dan selama menjalankan rukun Islam kelima tersebut.
Ibadah haji menuntut stamina fisik yang prima di tengah kondisi lingkungan yang tidak ringan. Menjaga asupan cairan secara konsisten adalah salah satu langkah paling sederhana—namun paling sering diabaikan—untuk memastikan jemaah tetap sehat dan mampu menuntaskan seluruh rangkaian ibadah dengan baik.
FAQ
Mengapa mengurangi minum saat haji justru berbahaya? Mengurangi minum membuat tubuh kekurangan cairan atau dehidrasi, yang dapat menyebabkan sakit kepala, lemas, sulit fokus, hingga pingsan di tengah cuaca panas Tanah Suci.
Berapa banyak air yang sebaiknya diminum jemaah haji? Petugas kesehatan merekomendasikan teknik dua teguk setiap sepuluh menit secara rutin, karena pola ini lebih efektif diserap tubuh dibanding minum banyak sekaligus.
Bagaimana cara mengetahui tubuh sudah terhidrasi dengan cukup? Perhatikan warna urine. Urine bening hingga kuning muda menandakan hidrasi yang baik, sedangkan urine kuning pekat atau kemerahan adalah tanda tubuh membutuhkan air segera.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.