Bayangkan pengunjung muda yang bisa “menyentuh” diorama digital Kerajaan Majapahit, atau menyaksikan rekonstruksi animasi pertempuran Diponegoro lewat layar imersif. Pendekatan seperti ini bukan hanya menarik, tetapi juga efektif menanamkan rasa cinta terhadap sejarah dan identitas bangsa sejak dini.
Revitalisasi fisik dan digital itu tentu percuma jika tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia di balik layar. Pengelola museum, kurator, hingga pemandu wisata budaya akan mendapat penguatan kapasitas sebagai bagian integral dari program ini.
Ini penting, karena museum yang baik tidak hanya soal bangunan megah atau koleksi lengkap. Museum yang hidup butuh manusia-manusia yang mampu menerjemahkan sejarah dengan cara yang menyentuh dan mudah dicerna oleh berbagai kalangan pengunjung.
Di sisi lain, pemerintah juga melihat kebudayaan sebagai mesin ekonomi baru. Wisata budaya, sejarah, dan religi diposisikan sebagai sektor yang berpotensi besar menggerakkan roda perekonomian daerah, terutama di wilayah-wilayah yang memiliki kekayaan situs bersejarah.
Keraton-keraton di Jawa, benteng-benteng kolonial di Sulawesi dan Maluku, hingga istana kerajaan di Sumatera—semuanya menyimpan daya tarik yang belum sepenuhnya dieksplorasi sebagai destinasi wisata berkelas. Jika dikelola dengan baik, aset-aset ini bisa menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.




Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.