Summarize the post with AI

Merespons situasi itu, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM Laode Sulaeman menyatakan stok LPG nasional per 14 April 2026 berada di angka sekitar 11 hari, mendekati batas minimum yang ditetapkan sebesar 11,4 hari. Ia menegaskan kondisi ini masih dalam kategori aman dan mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembelian panik yang justru dapat memicu kelangkaan buatan. “Kami mengimbau menggunakan bahan bakar secara wajar dan bijak, tidak panic buying,” tegasnya. Laode juga memastikan kontrak pembelian LPG dari luar negeri tetap berjalan dan pemerintah terus aktif mencari sumber pasokan alternatif.

Dari sisi korporasi, Corporate Secretary PPN Roberth MV Dumatubun menyampaikan bahwa perseroan terus menjaga kecukupan stok sembari menggalakkan gerakan hemat energi kepada masyarakat.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyatakan masa kritis pasokan LPG telah berhasil dilalui sejak 4 April 2026. Ia menyebut stok nasional kini sudah berada di atas 10 hari dan sejumlah kapal pengangkut kargo LPG tambahan akan segera merapat. Sebagai langkah antisipatif, Ditjen Migas juga telah menginstruksikan kilang LPG swasta untuk mengalihkan penjualan produk yang semula ditujukan ke segmen industri agar disalurkan melalui PPN guna memenuhi kebutuhan masyarakat.

Data Ditjen Migas mencatat kebutuhan LPG nasional sepanjang Januari hingga Februari 2026 mencapai 26.000 metrik ton per hari, atau total 1,56 juta metrik ton selama periode tersebut. Dari jumlah itu, sebanyak 1,31 juta metrik ton atau sekitar 84 persen dipenuhi dari impor, sementara produksi domestik hanya menyumbang 130.000 metrik ton. Amerika Serikat mendominasi sumber impor dengan porsi 68,91 persen, disusul Uni Emirat Arab sebesar 11,83 persen, Arab Saudi 7,36 persen, Qatar 5,21 persen, Australia 3,81 persen, dan Kuwait 2,61 persen.



Follow Widget