Summarize the post with AI
JAKARTA, PUNGGAWANEWS – Warga di sejumlah wilayah Jakarta dan sekitarnya mulai merasakan tekanan kenaikan harga gas elpiji 12 kilogram di tingkat pengecer, meski pemerintah dan PT Pertamina Patra Niaga (PPN) menegaskan pasokan nasional masih dalam kondisi terkendali. Kenaikan ini muncul di tengah kekhawatiran atas dampak ketegangan geopolitik di Selat Hormuz terhadap pasokan minyak dan gas dunia, sementara Indonesia tercatat menggantungkan lebih dari 80 persen kebutuhan LPG-nya pada pasokan impor.
Elly, seorang warga Pondok Labu, Jakarta Selatan, mengaku membeli LPG 12 kilogram pada Selasa, 14 April 2026, dan mendapati harga di pengecer resmi langganannya telah naik menjadi Rp210.000 per tabung, dari sebelumnya Rp200.000. Meski harga merangkak naik, ia menyebut ketersediaan gas nonsubsidi tersebut tidak mengalami gangguan. Kondisi serupa dialami Dwi, warga Ciputat, Tangerang Selatan, yang juga membeli LPG 12 kilogram di awal April dengan harga yang sama, yakni Rp210.000 per tabung. “Masih normal, masih diantar ke rumah seperti biasa,” ujarnya.
Harga yang beredar di tingkat pengecer itu kontras dengan yang tertera pada aplikasi resmi MyPertamina milik PPN, di mana Bright Gas 12 kilogram masih dipatok seharga Rp197.000 per tabung. Selisih harga antara pengecer dan platform resmi ini menjadi persoalan yang dikeluhkan warga.
Musyarofah, ibu rumah tangga berusia 56 tahun, mengungkapkan terakhir membeli LPG 12 kilogram sebelum Ramadan 2026 dengan harga Rp225.000 per tabung. Ia berharap pemerintah turun tangan menjaga stabilitas harga. “Gas merupakan kebutuhan pokok sehari-hari untuk memasak, sehingga kenaikan harga sangat memengaruhi pengeluaran keluarga,” katanya.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.