Ia juga menegaskan bahwa persepsi publik tentang Pramuka perlu diluruskan. Selama ini Gerakan Pramuka kerap diidentikkan hanya dengan kegiatan berkemah atau seragam cokelat. Padahal, Pramuka sejatinya adalah wadah pembentukan karakter, kecakapan hidup, kepedulian sosial, hingga rasa cinta tanah air yang kokoh.
Di era digital yang bergerak cepat, penanaman nilai-nilai tersebut menjadi semakin menantang. Budi Waseso menilai, media film adalah salah satu sarana paling efektif untuk menjangkau anak-anak dan remaja yang kini lebih banyak menghabiskan waktu di depan layar.
Produser Alamanda Production, Amanda Latief, berbagi visi serupa. Ia menekankan bahwa film ini sengaja dirancang sebagai tontonan keluarga yang kaya pesan moral, bukan sekadar hiburan sesaat.
“Kami percaya sebuah film dapat menjadi media pembelajaran yang menyenangkan,” kata Amanda. Baginya, kisah petualangan anak-anak Pramuka dalam film ini membuktikan bahwa nilai-nilai kepramukaan adalah bekal kehidupan yang relevan untuk menghadapi berbagai tantangan nyata, bukan hanya di hutan, tapi juga di dunia yang sesungguhnya.
Peluncuran film ini memiliki makna berlapis. Selain bertepatan dengan Hari Pramuka ke-65, momen ini juga menjadi bagian dari semangat menyambut Jambore Nasional (Jamnas) XII 2026, sebuah perhelatan besar yang mempertemukan ratusan ribu anggota Pramuka dari seluruh penjuru Indonesia.



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.