Kini, namanya tidak hanya dikenal di lingkaran aktivis, tetapi juga di kalangan yang lebih luas berkat viralnya unggahan skripsi tersebut. Perjalanan Fatimah masih panjang, baik sebagai calon dokter maupun sebagai suara kritis generasi mudanya.

Yang jelas, ia telah menunjukkan satu hal penting, bahwa menjadi mahasiswa yang baik tidak berarti harus menutup mata terhadap kondisi negeri. Dan menjadi aktivis tidak harus berarti mengorbankan masa depan akademik.

Fatimah Azzahra, dengan skripsi di tangan dan semangat di dada, memilih keduanya.



Follow Widget